Advertisement

Tampilkan postingan dengan label Vino G. Bastian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vino G. Bastian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Oktober 2017

WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS PART 2 (2017) REVIEW : Euforia dan Nostalgia Film Indonesia

Tak disangka, Warkop DKI Reborn sukses menjadi film terlaris di tahun 2016 bahkan predikatnya pun menjadi film terlaris sepanjang masa. Dengan perolehan 6,7 juta penonton ini, jelas Warkop DKI Reborn adalah prospek yang sangat besar bagi Falcon Pictures untuk menelurkan karya-karya lainnya atas nama Warkop DKI. Sayangnya, di tahun 2017 ini, Warkop DKI Reborn tak menelurkan sebuah judul baru untuk dapat dinikmati oleh penontonnya. Melainkan ini adalah lanjutan dari bagian pertama yang diputus di tengah jalan.

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss ini dibagi menjadi dua film yang saling berkesinambungan. Bagian keduanya dirilis tahun ini untuk menjawab apa yang selanjutnya terjadi di akhir film bagian pertama. Semangat nostalgia menjadi senjata utama dari Anggy Umbara untuk film-film Warkop DKI Reborn-nya ini. Senjata ini bisa digunakan dalam hal apapun, mulai dari konten hingga strategi promosi yang memang sudah terbukti efektif.

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 mungkin akan kesusahan sendiri untuk mencapai angka fantastis dari bagian pertamanya. Tetapi, penonton masih berbondong-bondong pergi ke Bioskop untuk mencari tahu kelanjutan cerita bagian pertama. Terpotongnya informasi dari bagian pertamanya ini mungkin akan membagi dua tipe penonton, yang penasaran dengan kelanjutannya atau malah merasa dicurangi karena tanggung jawab Anggy Umbara sebagai sutradara tak ditepati kepada penontonnya. 


Bagi yang penasaran, tentu akan berharap bahwa performa dari Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 akan memiliki performa yang lebih baik. Ekspektasi seperti ini tentu akan muncul karena Jangkrik Boss bagian pertama hanya memberikan sebuah pengantar ceritanya saja. Sehingga, sisa plot dengan berbagai konfliknya tentu akan berada di bagian keduanya. Memang benar, apabila di bagian kedua ada banyak sekali konflik yang menjalankan filmnya sepanjang 98 menit. Tetapi, tak bisa dipuaskan secara keseluruhan filmnya sendiri.

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 ini memang tak bisa dikategorikan buruk. Ada beberapa hal di dalam film Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 yang sangat perlu untuk diapresiasi. Tak hanya sekedar membangkitkan semangat nostalgia dari Warkop DKI saja, tetapi juga khasanah perfilman Indonesia. Tetapi, ada beberapa kelemahan yang membuat penontonnya juga akan ikut kelelahan untuk mengikuti tiap menit filmnya. 


Melanjutkan dari Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 di mana Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Wibowo) yang sudah pergi ke malaysia untuk menemukan harta karun. Di tengah perjalanannya, tasnya tertukar dengan milik seorang wanita bernama Nadia (Fazura). Dia adalah seorang ilmuwan di sebuah Universitas di Malaysia. Dono, Kasino, dan Indro berusaha pun meminta bantuan kepada Nadia untuk membaca peta harta karun tersebut.

Ditemukanlah bahwa peta harta karun tersebut berada di sebuah pulau tersembunyi di Malaysia. Berangkatlah Dono, Kasino, dan Indro dengan teman-temannya ke pulau tersebut untuk menemukan harta karun tersebut agar bisa menebus denda yang harus mereka bayar karena ulah mereka. Ketika sampai di sana, banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang menghantui mereka. Hingga mereka menemukan sebuah kebenaran dengan harta karun tersebut. 


Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 berisikan banyak sekali letupan yang berusaha keras agar membuat penontonnya tertawa. Sehingga, sepanjang 98 menit durasinya penonton dihajar terus dengan berbagai setup comedy yang memiliki niatan menghibur penontonnya. Sayangnya, segala letupan bangunan komedi yang berusaha untuk dibuat oleh Anggy Umbara memang tak sepenuhnya tepat sasaran. Ada komedi yang dapat diterima, tetapi juga tak sedikit komedi yang malah tak tersampaikan dengan baik.

Begitu tumpang tindih set upkomedi yang disampaikan dengan menggebu-gebu oleh Anggy Umbara ini tak lain hanyalah untuk menggenapkan jumlah durasi sehingga menjadi satu film yang utuh. Inilah penyakit dari sebuah film yang dipaksa menjadi dua bagian yang berbeda. Dengan konflik yang harusnya berada di satu film saja, semuanya malah terkesan dipanjang-panjangkan. Beberapa adegan pun bisa dihilangkan demi penceritaan yang lebih efektif.

Tetapi, hal itu adalah keputusan dari sang sutradara sendiri dalam memilih. Di luar bagaimana presentasi film yang terbelah menjadi dua film yang tak efektif, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 memiliki poin yang perlu diapresiasi. Film arahan Anggy Umbara ini tak sekedar memberikan sebuah euforia atas ketiga komedian legendaris, tetapi juga kepada ranah perfilman Indonesia di era sebelumnya. Hal ini mungkin akan jarang ditemui di dalam film-film Indonesia lainnya. 


Menggunakan konflik dalam filmnya sebagai sebuah napak tilas ini menjadi sebuah cara yang menarik. Kapan lagi kita bisa melakukan perjalanan dari zaman ke zaman tentang film Indonesia dengan kemasan yang menyenangkan. Memberikan tribut kepada perfilman Indonesia pun bisa dilakukan dengan begitu festive dan tak melulu serius. Mengingatkan atau mungkin memperkenalkan kepada semua generasi era film-film Rhoma Irama atau bahkan Suzanna.

Dengan adanya sebuah perayaan tentang perfilman Indonesia, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 setidaknya memiliki nilai yang masih bisa diangkat. Selebihnya, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 seharusnya akan jauh lebih efektif apabila dirangkum menjadi satu film utuh tanpa dibagi menjadi dua bagian. Meski memiliki maksud untuk memberikan efek nostalgia, seharusnya efek tersebut akan bisa berdampak lebih masif lagi apabila tak menuruti ego dalam memenuhi kuantitas terlebih dalam jumlah penonton.

Senin, 03 Oktober 2016

WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS PART 1 (2016) REVIEW : Semangat Nostalgia Atas Nama Komersialisasi


Siapa yang tak kenal dengan trio komedian Dono, Kasino, dan Indro? Nama mereka menjadi salah satu sosok legendaris yang dikagumi oleh banyak orang yang pernah mengikuti zaman kejayaan mereka. Mereka menyebut diri mereka �Warkop DKI� yang sudah memiliki banyak sekali film-film dan serial televisi. Dono dan Kasino yang telah wafat, membuat grup komedian ini sudah absen selama beberapa tahun. Beberapa pihak ingin sekali �menghidupkan kembali� sebuah ikon komedi legendaris di Indonesia ini.
 
Maka, Falcon Pictures yang sudah sering bekerjasama dengan Indro Warkop akhirnya melahirkan kembali trio komedian ini dengan sosok baru. Bersama dengan Anggy Umbara, Falcon Pictures berinisiatif untuk membuat Warkop DKI Reborn yang tetap mengangkat nama Dono, Kasino, dan Indro tetapi dengan wajah yang berbeda. Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro dipercaya untuk melakonkan sosok legendaris ini ke dalam sebuah film berjudul Jangkrik Boss yang dibagi menjadi dua bagian.

Jelas, proyek ini mendapatkan sorotan yang sangat besar dari calon penonton karena rasa penasaran mereka terhadap kapabilitas ketiga aktornya. Word of Mouth dari film ini pun semakin besar dan mendapatkan antusiasme yang cukup tinggi. Bagusnya, Ketiga aktor tersebut, secara performa, sangat berhasil menangkap semangat dari Warkop DKI lama. Hanya saja, problematika muncul dari bagaimana Anggy Umbara mengarahkan filmnya dan naskah dengan treatment komersialisasi.


30 menit awal terlihat benar bagaimana tingkah laku Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, dan Vino G. Bastian yang berusaha keras meyakinkan penonton bahwa mereka sangat kompeten untuk melahirkan kembali komedian legendaris tersebut. Muncul banyak sekali sketsa-sketsa komedi yang menggambarkan dan memiliki semangat Warkop DKI kala itu. Komedi-komedi slapstick yang dikemas ulang dengan isu-isu masa kini sehingga penonton akan terasa sedikit relevan.

Sehingga ketika sketsa-sketsa penuh tribute itu berhenti dan kewajiban Anggy Umbara untuk memberikan jalan cerita dari Jangkrik Boss Part 1 ini malah menjadi sebuah perjalanan tensi yang menurun. Plot cerita di dalam Jangkrik Boss Part 1 menjadi sebuah problematika utama yang seharusnya perlu ditinjau ulang agar Warkop DKI Reborn tetap menjaga excitement yang sudah terlanjur muncul di awal film. Sehingga, penonton mungkin akan merasa kecewa dengan perjalanan cerita yang belum tuntas tersebut.


Tingkah laku Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) sebagai CHIPS yang seharusnya membantu menertibkan keadaan ternyata malah membuat banyak sekali kekacauan. Sehingga, mereka perlu untuk membereskan banyak sekali hal yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka pun diberi hukuman untuk membayar denda sebanyak  8 Milyar. Atas ulahnya tersebut mereka mencari cara agar mendapatkan uang itu.

Mulai dari meminjam uang dari saudara Dono hingga menjual barang-barang yang dimilikinya. Hingga suatu ketika, mereka menemukan sebuah peta harta karun dari kantong milik seseorang yang tergeletak di tengah jalan. Akhirnya, Dono, Kasino, dan Indro berusaha untuk menemukan harta karun tersebut yang ternyata membawa mereka ke negeri Jiran, Malaysia. Tetapi, ketika sampai, Peta tersebut terbawa oleh seorang wanita berbaju merah yang memiliki tas yang sama dengan mereka. 


Di sinilah problematika dari Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1. Keseluruhan film mungkin sudah dirangkum ke dalam sebuah sinopsis pendek di atas. Bagian kedua film Jangkrik Boss nanti, mungkin Anggy Umbara akan lebih berusaha untuk menyampaikan ceritanya. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa sejak kapan film-film Warkop DKI mementingkan plot di dalamnya, tetapi yang perlu ditekankan di sini  adalah bagaimana Anggy Umbara memberhentikan ceritanya yang baru jalan 30 menit.

Di dalam Jangkrik Boss Part 1, Anggy Umbara lebih memaksa penonton untuk menerima nostalgia akan segala bentuk sketsa komedi milik Warkop DKI lama di beberapa adegan awal. Segala sketsa komedi itu dengan sukses menyampaikan segala keinginan Anggy Umbara untuk menyelesaikan misi tersebut. Tetapi, keambisiusan dalam menyelesaikan misi itu ternyata berlangsung terlalu lama sehingga berdampak dalam bagaimana Anggy Umbara menyampaikan pesan lain dalam sebuah plot.

Plot dalam cerita menjadi bias di antara sketsa-sketsa komedi yang berada di dalam filmnya. Sudah ada i'tikad baik dari Anggy Umbara yang berusaha untuk memberikan briefing tentang konflik dalam Jangkrik Boss Part 1. Terdistraksi dalam menjalankan plot utama dikarenakan oleh subplot yang bertebaran mungkin akan wajar, tetapi Anggy Umbara terlalu lama bercengkrama dengan segala gangguan tersebut. Sehingga, Jangkrik Boss Part 1 tak menjalankan pion ceritanya secara utuh sehingga itu menjadi poin yang harus diperbaiki lagi.


Perjalanan dan pengenalan kembali karakter Dono, Kasino, dan Indro di dalam Jangkrik Boss Part 1 sudah terasa cukup. Butuhnya keefektifan dari Sutradara film inlah poin yang perlu diperhatikan, yang mana seharusnya sudah dapat diprediksikan sebelumnya tanpa memotong plot cerita --yang bahkan terasa kasar.  Jangkrik Boss Part 1 terasa sibuk menumpulkan pemikiran penontonnya dengan berbagai terpaan sketsa komedi di dalamnya sehingga membentuk sebuah realita baru yang melupakan hak penonton dalam mendapatkan sebuah pesan yang utuh.

Plot cerita yang belum tuntas bila diiringi dengan problematika penuh kompleksitas dalam penuturannya mungkin masih mendapat kewajaran dari penonton. Tetapi, plot dalam Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini pun tak memiliki kompleksitas yang rumit dan membaginya menjadi dua bagian akan menimbulkan respon setelah menonton yang membuat penontonnya berkubu. Ada yang menantikan film selanjutnya, atau mungkin jera untuk mengikuti film-film selanjutnya.

Atas nama komersialisasi, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss membagi diri menjadi dua bagian dengan jumlah penonton yang sudah mencapai 6 juta. Tetapi, sekali lagi, penonton pun perlu mendapatkan sebuah pesan yang utuh dalam sebuah film. Kontinuitas yang dibangun oleh sutradara atau pun rumah produksi dalam komersialisasi sebuah produk mereka mungkin sudah tak bisa dihindari lagi. Hanya saja, perlu treatment bagaimana mereka mengemas sebuah kontinuitas produk mereka tanpa melupakan hak penontonnya untuk mendapatkan sebuah pesan yang utuh. 


Maka dari itu, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini memiliki banyak sekali potensi untuk menjadi sebuah sajian universal  penonton Indonesia. Pun, aktor-aktornya berhasil mengembalikan semangat-semangat Warkop DKI lama sehingga akan menimbulkan efek nostalgia. Tetapi, bagaimana Anggy Umbara lupa melaksanakan kewajibannya untuk menyampaikan sebuah pesan atau cerita secara utuh ini perlu diperhatikan lagi. Membagi Jangkrik Boss ke dalam sebuah dua bagian mungkin tak salah atas nama komersialisasi, tetapi tambahkan saja beberapa poin yang pada akhirnya dapat membuat penonton mengerti bahwa memang Jangkrik Boss ini memiliki urgensi menggunakan template ini.

Kamis, 28 Juli 2016

BANGKIT! (2016) REVIEW : Pionir Genre Baru di Perfilman Indonesia


Genre perfilman Indonesia akhir-akhir ini pun semakin berwarna. Mulai dari drama, komedi, hingga film aksi mulai sering dibuat oleh film-film Indonesia. Hingga pada akhirnya, Oreima Films dan juga Kaninga Pictures berusaha untuk memberikan sebuah genre baru di perfilman Indonesia untuk mewarnai keragaman di dalamnya. Muncullah sebuah ide untuk membuat sebuah disaster movie yang mungkin sudah bukan hal baru di industri perfilman Hollywood.

Proyek ini sudah terdengar proses pembuatannya sejak tahun 2015, dengan banyak memunculkan teaser-teaser poster yang cukup menggugah minat calon penontonnya. Jakarta Bangkit pada awalnya menjadi judul atas proyek film ini hingga pada akhirnya memutuskan untuk memilih judul Bangkit! sebagai judul akhir. Dengan tagline �karena menyerah bukan pilihan�, Rako Prijanto berusaha keras untuk mengarahkan film bencana pertama yang ada di Indonesia yang dibintangi oleh Vino G. Bastian, Acha Septriasa, Deva Mahenra, dan juga Putri Ayudya.

Sebagai yang pertama di perfilman Indonesia, Bangkit! mungkin akan dipenuhi dengan banyak pertaruhan. Entah secara kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan oleh film Bangkit! ini sendiri. Apalagi, film ini dipenuhi dengan gegap gempita visual efek yang mulai dari awal film hingga akhir. Yang mana, di dalam bidang tersebut film-film Indonesia mungkin bisa dikatakan belum mahir bahkan masih sangat lemah. Sehingga, tak salah jika penonton masih merasa was-was dengan film ini. Tetapi, Bangkit!adalah sebuah film Indonesia yang penting untuk diapresiasi di tahun 2016 ini. 


Bangkit! terinspirasi dengan sebuah realita tentang kota Jakarta yang sering terkena banjir. Maka, Rako Prijanto dan tim berusaha untuk membentuk sebuah bahasa visual yang dapat menjelaskan realita itu dengan karakter-karakternya. Di mana, Addri (Vino G. Bastian) adalah kepala dari sebuah keluarga bahagia bersama Indri (Putri Ayudya). Addri pun sangat berjasa dengan jasanya sebagai ketua Basarnas yang selalu sigap atas keluh kesah warga kota Jakarta. Ketika sebuah bencana datang, Arifin (Deva Mahenra) adalah seseorang yang ditolong olehnya.

Bencana tersebut membuat Arifin datang ke upacara pernikahannya dengan sang kekasih, (Acha Septriasa) karena tenggelam di sebuah bangunan karena banjir. Tetapi, kegentingan masalah pribadi tersebut ternyata hanya menjadi sedikit kecil dari problematika yang ada. Karena masalah terbesar adalah Jakarta sudah dalam fase banjir yang menghawatirkan. Badai terus menyerang kota Jakarta hingga volume air sudah tak dapat menampung. Addri dan Arifin mencoba untuk mencari solusi atas bencana yang tak kunjung berhenti ini. 


Bangkit! mungkin memiliki cerita-cerita khas Hollywood dalam membangun sebuah film dengan tema bencana di dalam filmnya. Bangkit! terlihat memiliki banyak referensi dengan tema-tema film serupa, sehingga Bangkit! mungkin memiliki sebuah kematangan dalam mengemas filmnya. Karakter di dalam film Bangkit! memang terlampau banyak dengan problematikanya masing-masing. Akan terasa sekali di awal film, Rako Prijanto kebingungan untuk mengenalkan satu persatu karakter di dalam film Bangkit!

Belum selesai dalam mengenalkan para karakternya, Rako Prijanto langsung menghajar penonton dengan konflik utama di dalam film Bangkit!. Sehingga, penonton mungkin terasa sedikit kesusahan untuk memberikan sebuah simpatinya dengan para karakter di dalam film ini. Namun, perlahan Rako Prijanto tahu untuk mengarahkan subplot ceritanya yang belum cukup tertata di 20 menit awal film. Semakin lama, Bangkit! semakin mencengkram penontonnya dengan konflik-konflik yang ada.

Bangkit! akhirnya menyatukan semua problematika karakter sehingga dapat memberikan fokus besar terhadap konflik utama di dalam film ini. Sebagai sebuah pionir atas film dengan genre bencana ini, Bangkit! mungkin akan terjebak dalam sebuah film yang dijadikan sebagai ajang pamer atas pencapaian visual efek. Ternyata Bangkit! berada di luar dugaan. Tahu bahwa film ini masih lemah dalam menampilkan gegap gempita visual efek, Bangkit! berusaha untuk berusaha mencengkram penontonnya dengan konflik-konflik yang menumbuhkan sebuah simpati. 


Rako Prijanto berhasil memunculkan sebuah emosi dari setiap karakternya meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu pun dipengaruhi oleh plot-plot sampingan dari film Bangkit!yang terlalu banyak. Sehingga, mungkin durasi film terasa membengkak hingga 122 menit karena membutukan penyelesaian di setiap konfliknya. Tetapi, Bangkit! bisa memberikan sesuatu yang menarik yang membuat penonton betah mengikuti konfliknya hingga akhir.

Bicara tentang visual efek, Bangkit!mungkin masih memiliki kelemahan dalam presentasinya. Tetapi kerja kerasnya dalam memberikan sebuah detil-detil di dalam editing visual efeknya, hal tersebut patut untuk diacungi jempol. Beberapa mungkin terlihat kasar, tetapi beberapa efeknya masih mampu memberikan sebuah tensi di dalam filmnya. Secara visual efek, Bangkit! jelas tak bisa dibandingkan dengan film-film luar negeri yang sudah terbiasa dengan grafis komputer. Sehingga, dalam menilai film ini tentu perlu parameter yang berbeda. 

 
Maka, sebagai sebuah pionir sebuah film dengan genre seperti ini, Bangkit! bisa dikatakan memiliki presentasi yang berhasil. Meskipun, Bangkit!masih memiliki problematika dalam memberikan sebuah keterikatan dengan penontonnya, tetapi pada akhirnya Bangkit!berhasil menumbuhkan simpati penonton setelah 20 menit pertama. Pun, hal itu semakin mengikat penonton hingga akhir film dan bagusnya Bangkit! mengetahui kelemahannya dalam memamerkan visual efek yang luar biasa. Sehingga, Rako Prijanto menjadikan hal tersebut sebagai sebuah bonus yang berbeda di perfilman Indonesia. Jadilah, Bangkit! sebagai salah satu sebuah film Indonesia yang penting di tahun ini dan berbeda. 

Rabu, 02 Maret 2016

TALAK 3 (2015) REVIEW : Medium Syiar Agama Yang Universal


Sebuah pernikahan adalah salah satu dari bagian upacara adat dan agama yang dianggap sangat sakral. Janji sehidup semati dengan satu orang dan hidup dalam satu atap jelas akan ditetapkan aturan-aturan saklek entah dari agama maupun pemerintah. Apalagi, ketika keputusan seorang pasangan untuk tak lagi bersama jelas akan diberikan sebuah konsekuensi rumit yang harus dia jalani. Dan dari fenomena itulah, Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth membangun sebuah cerita untuk film terbaru garapan mereka.
 
Talak 3 memberikan petuah atau nasihat tentang sebuah perceraian atas ajaran sebuah agama yang berdiri tegak dan tak bisa diubah. Itu pun dikemas tak terlalu serius tetapi bukan berarti menggampangkan ajaran-ajaran agama yang saklek tentang sebuah pernikahan. Dibintangi oleh Laudya Cynthia Bella, Vino. G. Bastian, dan Reza Rahadian, film ini tak hanya siap untuk berusaha menghibur penontonnya tetapi juga meraih kuantitas dalam jumlah penontonnya.

Di bawah naungan MD Entertainment, sedikit menghawatirkan kemasan Talak 3 akan menjadi salah satu sekian banyak drama religi melankolis yang terlalu diekspos berlebih. Nyatanya, Talak 3 menjadi salah satu yang berbeda dari film-film produk MD Entertainment. Menjadikan Talak 3 sebuah film komedi romantis dengan nafas keagamaan adalah keputusan tepat agar tak terbawa terlalu serius untuk medium syiar agama. 


Menjalani hidup bersama dengan pasangan memang gampang-gampang susah. Apalagi, ketika sudah janji sehidup semati dengan pernikahan sebagai upacara yang sakral. Hal itu juga dialami oleh Bagas (Vino G. Bastian) dan Risa (Laudya Cynthia Bella) ketika menjalani kehidupan mereka sebagai suami istri. Banyak sekali rintangan yang harus mereka hadapi dan mereka memutuskan untuk berpisah karena Bagus terpergok sedang merajut kasih dengan penyanyi pop melayu. Kehidupan mereka setelah bercerai pun tetap dirundung masalah, karena hutang piutang mereka menumpuk.

Tetapi rejeki memang selalu datang ketika keadaan sedang sulit, sebuah pengorganisir acara menyetujui proposal mereka tentang acara pernikahan dengan Bagas dan Risa sebagai ikonnya. Tetapi, sang penyetuju acara mereka tak mau menyetujui acara mereka karena Bagas dan Risa tak lagi bersama. Mereka berdua mencari cara agar bisa menikah kembali tetapi persyaratan untuk menikah kembali menurut agama mereka tak semudah kedengarannya. Dan Bimo (Reza Rahadian), teman kecil Risa yang juga berkolega bisnis dengan mereka berusaha mencarikan solusi. 


Kerumitan-kerumitan dalam cerita Talak 3 yang  digarap oleh Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth berpotensi untuk menjadi sebuah medium syiar agama yang terlalu serius dan menceramahi. Maka dari itu, mereka ingin menjadikan Talak 3 sebuah sajian komedi romantis. Tragedi-tragedi serius ini adalah komposisi menarik agar dijadikan sebuah komedi yang bagus. Tujuannya jelas untuk memberikan pengertian atas konsekuensi dan resiko yang harus dihadapi oleh dua sejoli ketika sudah mengucap janji sehidup semati.

Kekakuan sebuah ajaran agama yang berusaha disampaikan di dalam Talak 3 bukan serta merta untuk menyebarkan pandangan bahwa agama tertentu adalah superior. Hanya saja di dalam Talak 3 ini kedua sutradara ingin menyampaikan pesan bahwa pernikahan bukanlah segampang yang dikira banyak orang. Pun, hal ini akan sangat berlaku di ajaran kepercayaan mana pun. Kerumitan plot film ini adalah perwakilan dari bagaimana proses yang rumit ketika mantan sepasang suami istri ini berusaha mencurangi peraturan yang ditetapkan untuk mengatur pernikahan.

Bagas dan Risa berusaha keras agar mereka bisa hidup kembali setelah melalui prosek talak tiga sebagai syarat dari perceraian. Mereka berusaha mencurangi peraturan-peraturan saklek dari sebuah kepercayaan yang ternyata tak dapat mereka abaikan begitu saja. Bagusnya, Hanung dan Ismail berusaha keras agar Talak 3 tak melenceng dari landasan kepercayaan yang mereka pegang tetapi dapat menyampaikan syiar mereka dengan cara yang lugas dan juga menyenangkan. Pun, diperkuat lewat ikatan emosi yang sangat nyata oleh para pelakonnya. 


Pun, Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth berusaha keras untuk menyindir isu-isu sosial ketika sebuah agama dijadikan sebagai komoditas penghasil uang yang menjanjikan bagi petinggi negeri. Ajaran-ajaran agama saklek yang berusaha dicurangi serta merta dihalalkan begitu saja agar bisa mendapatkan keuntungan dalam bentuk materi. Talak 3 berusaha menyindir hal-hal itu dan disampaikan kepada penontonnya tetapi dengan komedi riuh. Sehingga, pesan berat itu diolah agar menjadi sebuah kemudahan yang dapat dicerna.

Film adalah sebuah hal yang representatif dari yang terjadi di lingkungan sekitar. Maka, Hanung dan Ismail Basbeth me-reka ulang kejadian yang ada di sekitar mereka tentang mayoritas orang yang berusaha mencurangi ajaran dari tuhan. Penerapan sebuah ajaran tuhan yang sudah menjadi budaya yang disampaikan di dalam film ini bukan sebagai medium untuk mengkritisi. Terlepas dari sebuah ajaran agama, film ini ingin menyampaikan sebuah pesan universal yang dapat diterima oleh semua kalangan tentang keabsahan sebuah pernikahan. 


Dengan banyaknya pesan-pesan dan kerumitan plot yang ada di dalam film Talak 3, hal itu tak membuat filmnya menjadi sebuah film yang menceramahi. Talak 3 ingin menunjukkan kedewasaan dalam menyelesaikan masalahnya ketika mereka telah berusaha keras mencurangi ajaran saklek dari tuhan tentang pernikahan. Tetapi di luar pesan-pesan syiar agama yang mereka sampaikan, terdapat sebuah pesan universal yang ingin disampaikan tentang sebuah pernikahan. Konten berat yang dihadirkan lewat Talak 3 diolah menjadi sebuah komedi ringan yang tetap lugas dalam memberikan syiarnya. Jelas, Talak 3 adalah sebuah komedi romantis bernafas keagamaan yang sangat menyenangkan!

Senin, 20 Oktober 2014

3 NAFAS LIKAS (2014) REVIEW : Siapa itu Likas ?


Tak henti-hentinya para sineas Indonesia menggarap film biopik untuk meramaikan perfilman Indonesia. Mulai dari para petinggi negeri, tokoh-tokoh agama, hingga sosok menginspirasi yang berhasil menitih karir from zero to hero. Tema biopik ini memang bisa dibilang sukses untuk menarik perhatian penontonnya. Sehingga tak salah, jika para sineas Indonesia mulai berlomba-lomba untuk mengangkat sosok-sosok penting di dalam negeri untuk diadaptasi ke layar lebar.

Rako Prijanto contohnya, salah satu sutradara yang sudah pernah menggarap film biopik tokoh agama yaitu Sang Kiai. Kesuksesan Sang Kiai di ajang Festival Film Indonesia 2013 ini, membuat Rako Prijanto sekali lagi mengarahkan sebuah film biopik. Diangkat dari kisah sosok Likas Tarigan, perempuan asal Karo yang juga sekaligus istri dari Djamin Gintings. Bersama dengan Atiqah Hasiholan dan Vino G. Bastian di deretan pemainnya, film biopik ini diberi judul 3 Nafas Likas. 


Dimulai saat era 1930-an, Likas Kecil (Tissa Biani Azzahra) ingin sekali menjadi guru. Di sekolahnya, Likas kecil mendapatkan prestasi yang bagus. Hingga Ayah Likas (Arswendi Nasution) memutuskan untuk mendaftarkan Likas ke sekolah guru di Padang Panjang. Hal tersebut mendapatkan tentangan dari Ibu Likas (Jajang C. Noer) yang berharap Likas tidak pergi ke sekolah guru tersebut. Tetapi, Likas tetap yakin dengan kemauannya.

Selang waktu berlalu, Likas (Atiqah Hasiholan) sudah lulus dan berhasil menjadi seorang guru di Padang Panjang. Pada akhirnya, dia bertemu dengan pemuda pasukan PETA, Djamin Gintings (Vino G. Bastian). Djamin tiba-tiba menaruh hati pada Likas. Meski pada awalnya, Likas selalu membuang muka dan menghindar dari Djamin. Di saat itu pula, keadaan Indonesia yang sedang dijajah Jepang semakin memburuk dan mengharuskan Likas untuk berjuang menyelamatkan dirinya. 


Still being one of the gem in indonesian cinemas.

Biopik kembali menjadi tren ketika Habibie & Ainun, film yang mengisahkan perjalanan presiden ketiga negara Indonesia ini, berhasil memperoleh jutaan penonton. Beberapa biopik pun dibuat alih-alih untuk mendapatkan antusiasme penonton. Rako Prijanto, yang pernah menggarap Sang Kiai �yang juga sukses� dibawah rumah produksi Oreima Pictures menggiring 3 Nafas Likas menjadi salah satu film biopik yang akan dikenang oleh penontonnya.

Satu hal yang mungkin akan dipertanyakan oleh penonton film biopik. Siapa itu Likas? Apa yang telah diperbuatnya oleh negara? Tentu, Likas akan memiliki koneksi yang cukup kuat di daerah tertentu. 3 Nafas Likas akan membuat penonton tahu siapa itu Likas. Orang biasa yang ingin mewujudkan mimpinya menjadi seorang agar menjadi kenyataan. Kehidupan orang biasa ini sepertinya belum bisa diarahkan dengan cukup baik oleh Rako Prijanto.

Pertanyaan awal tadi sepertinya juga patut dipertanyakan di dalam film 3 Nafas Likas. Siapa itu Likas? Istri Djamin Gintings, sosok Letnan Jendral. Lantas apa yang membuatnya spesial sebelum itu? Rako Prijanto pun seperti masih mempertanyakan siapa itu Likas di dalam filmnya. Dengan naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena, sosok Likas masih terbangun baik dalam paruh pertama filmnya. Rako Prijanto berhasil memberikan harapan di paruh pertama kepada penontonnya. 


Ketika Vino G. Bastian yang memerankan Djamin Gintings muncul, ini adalah titik turun di dalam filmnya. Bukan karena akting dari Vino G. Bastian yang buruk, tetapi karena bagaimana Rako Prijanto terlihat kuwalahan untuk mengarahkan karakter-karakter yang sudah mulai menumpuk di dalam filmnya. Penuturan lembut di dalam skrip milik Titien Wattimena itu masih terasa, tetapi Rako Prijanto tidak bisa merepresentasikan naskah yang ada. Di sisa-sisa menit yang ada, 3 Nafas Likas terlihat susah untuk menuturkan apa yang terjadi di dalam filmnya.

Dengan Timeline yang memiliki rentang waktu yang cukup panjang, 100 menit akan terasa sangat singkat. Rako Prijanto pun seperti harus memasukkan setiap adegan-adegan yang ada meskipun akan terasa beberapa cerita masih ada yang belum tuntas untuk diceritakan. Begitupun dengan sosok Likas yang sudah mulai buram dalam pembangunan karakternya. Sosok Likas yang seharusnya lebih diceritakan seperti diambil alih oleh cerita milik Djamin Ginting, meski tetap menggunakan Likas sebagai point of view di dalam filmnya. 


Akan terasa episodik di setiap paruh filmnya, karena transisi karakter yang cukup dominan. Sesuai dengan judulnya, 3 Nafas Likas, metafora kehidupan Likas yang bergantung terhadap 3 orang yang berpengaruh di hidupnya. Tetapi, naskah milik Titien Wattimena ini memiliki beberapa hal yang patut dipuji. Bagaimana kehidupan budaya Karo tentang merantau dan beberapa adat lainnya yang mampu dirangkum di dalam naskahnya. Meski, Rako Prijanto masih belum bisa menerjemahkan semua itu dengan sempurna.

Pun juga perlu mendapatkan apresiasi dalam nilai produksi di dalam setting filmnya. Setiap detil tempat dan suasana berhasil menangkap bagaimana kehidupan di Karo, bagaimana kehidupan di tahun 1930, dan seterusnya. Digarap dengan sangat baik yang mampu menutupi segala kekurangan tutur cerita milik Rako Prijanto yang belum rapi. Usaha-usaha teknis yang benar-benar digarap serius dan tertangkap oleh sinematografi yang cantik ini layak diacungi jempol. 


Juga dengan kekuatan akting dari Atiqah Hasiholan dan Vino G. Bastian yang berhasil menggunakan logat etniknya dengan baik. Meski, chemistry antara mereka belum benar-benar terjalin kuat layaknya Reza Rahadian dan juga Bunga C. Lestari di Habibie & Ainun. Yang patut disorot adalah Tissa Biani Azzahra yang memerankan Likas Kecil. Sebagai aktris cilik, performa miliknya begitu luar biasa dan mampu membuat penonton simpati dengan karakternya.

3 Nafas Likas masih memiliki kelemahan di dalam penuturan ceritanya. Belum bisa membangun karakter Likas dengan begitu spesial sehingga layak diapresiasi lewat film biopik. Tetapi, 3 Nafas Likas tetap menjadi salah satu film Indonesia yang patut untuk diapresiasi. Dengan nilai produksi yang sangat detil dan digarap serius, 3 Nafas Likas ini perlu untuk mendapat dukungan dari penontonnya. Salah satu film Indonesia yang digarap tidak sembarangan. 
2014 © Movieism
RealMag theme by Templateism - Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger