Advertisement

Tampilkan postingan dengan label July. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label July. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Agustus 2017

WAR FOR THE PLANET OF THE APES (2017) REVIEW : Penutup Kisah Caesar yang Tak Sempurna

Cerita tentang kera bernama Caesar ini telah mencapai ke seri ketiganya yang digadang menjadi penutup. Kehadiran trilogi remake dari Planet of The Apes ini memiliki performa yang cukup mengagetkan karena berhasil dibuat dengan kualitas yang di atas rata-rata. Penonton yang sudah cukup meremehkan pembuatan ulang dari film Planet of The Apes ini dibuat kagum dengan bagaimana performa Rise of The Planet of the Apes.

Kesuksesan secara kualitas ini pun berhasil dijaga dan dibuat dengan performa yang jauh lebih bagus lagi di dalam Dawn of the Planet of the Apes. Performa Dawn of the Planet of the Apes yang meningkat berkat pergantian sutradara dari Rupert Wyatt ke Matt Reeves ini membuat 20th Century Fox memutuskan untuk menggunakan Matt Reeves untuk mengarahkan bagian penutupnya. Maka dari itu, Matt Reeves kembali mengarahkan trilogi Planet of The Apes ini ke dalam sebuah penutup yang diharapkan dapat memiliki performa yang bagus.

War For the Planet of The Apesini adalah sebuah seri kunci sekaligus penutup untuk kisah komplotan kera yang dipimpin oleh Caesar ini. Tak hanya Matt Reeves saja yang kembali sebagai pengarah filmnya, tetapi juga Matt Bomback yang juga membantu Matt Reeves untuk menyelesaikan naskah dari film penutupnya ini. Dimeriahkan pula oleh Woody Harrelson di jajaran nama departemen aktingnya bersama dengan Andy Serkis yang tentu saja tetap menjadi Caesar. 


Trilogi baru dari Planet of the Apes ini menjadi sebuah sesuatu yang perlu diapresiasi di perfilman Hollywood karena performanya yang stabil dan cenderung meningkat. War For the Planet of The Apes ini memang masih menjadi sebuah film yang diarahkan dan dibuat dengan baik. Tetapi, sebagai sebuah penutup, War For The Planet of The Apes ini adalah sebuah penutup yang tak sempurna. Memiliki berbagai macam kelemahan yang mendistraksi kemegahan pembuatan film ini.

Kisah utama di dalam seri-seri Planet of the Apes ini tentu saja adalah para kera, terutama tentang Caesar sebagai pemimpinnya. Tetapi, problematika penonton di film-film sebelumnya adalah minimnya relevansi yang dapat dilekatkan dengan para karakter manusianya. Sehingga, War For the Planet of the Apes ini berusaha untuk menumbuhkan relevansi itu. Hal ini pada akhirnya menganggu Matt Reeves untuk bercerita kepentingan-kepentingan karakter yang berusaha dimasukkan ke dalam film ini. 


War For the Planet of the Apesmenceritakan tentang bagaimana Caesar (Andy Serkis) dan para komplotan keranya yang sudah mencari tempatnya yang damai dan aman dari gangguan. Tetapi, kehidupan mereka pada akhirnya diusik oleh para manusia yang berusaha memusnahkan komplotan kera yang dipimpin oleh Caesar. Para manusia dibantu oleh para kera lain yang membelot dari kepemimpinan Caesar ini menemukan tempat persembunyian Caesar dan komplotannya.

Caesar yang merasa dirinya dan komplotannya aman pun tak menyadari bahwa dirinya akan diserang oleh manusia. Perang pun terjadi antara para komplotan Caesar dan manusia. Hal ini pun menyebabkan banyak korban dari komplotan kera milik Caesar berjatuhan terutama kera-kera yang dekat dengan Caesar. Dengan keadaan yang seperti ini, Caesar berusaha untuk membalaskan dendamnya dan menyerang markas besar manusia yang dipimpin oleh The Colonel (Woody Harrelson). 


Berusaha memperbaiki apa yang diminta oleh para penikmat filmnya tentu menjadi sangat penting bagi sineas. Selain untuk tetap menjaga kepercayaan dari penontonnya, hal ini juga menunjukkan bahwa sineas tersebut mau belajar. Tetapi, hal tersebut tentunya perlu diimbangi dengan bagaimana kemampuan seorang sutradara dalam mewujudkan keinginan penontonnya. War For the Planet of the Apes sebenarnya akan lebih terasa penuh makna apabila tetap fokus dengan plot cerita utamanya yaitu tentang balas dendam.

Tetapi, yang dilakukan oleh Matt Reeves dan Matt Bomback adalah dengan memberikan subplot tentang manusia dan kehidupannya yang semakin melemah karena virus yang disebabkan. Informasi tentang hal tersebut memang seharusnya penting untuk semakin memperkuat dan memperbesar bangunan dunia rekaan di dalam film ini. Hanya saja, Matt Reeves seperti tak bisa menanganinya dengan seimbang. Sehingga, informasi-informasi ini yang dimasukkan sebagai cabang cerita pada akhirnya menjadi bumerang terhadap hasil keseluruhannya.

Memasukkanplot tentang kisah manusia dan memasukkan karakter manusia terlebih kepada karakter Nova menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan. Informasi yang diterima oleh penonton pada akhirnya tak bisa sepenuhnya diterima. Penonton meraba sendiri ada apa dengan karakter Nova sehingga menumbuhkan urgensi untuk masuk ke dalam plot cerita dengan screen time yang cukup banyak. Terutama ketika Nova menjadi poin kunci di akhir film dan penonton pun masih mencari motivasi karakter tersebut untuk pada akhirnya harus menjadi sosok yang penting. 


Di luar kebingungan Matt Reeves untuk berusaha memberikan relevansi antara penonton dengan karakter manusia, Matt Reeves masih bisa membuat War For the Planet of the Apes sebagai sebuah film yang masih kuat. Ada beberapa adegan yang diarahkan dengan baik sehingga muncul berbagai macam tensi dan emosi. Terlebih dalam mengarahkan Andy Serkis di balik teknologi motion capture-nya sebagai karakter Caesar. Tanpa directing dan ketelitian berakting dari Andy Serkis, War For the Planet of the Apes akan jatuh menjadi film penutup yang sia-sia.

Sebagai sebuah seri penutup, War For the Planet of the Apes masih tampil dengan cukup kuat berkat beberapa adegan penuh tensi dan keseruan yang berhasil diarahkan oleh Matt Reeves. Tetapi, sayangnya War For the Planet of the Apes bukanlah sebuah penutup yang sempurna dikarenakan usaha Matt Reeves itu sendiri dengan usahanya menjawab kemauan penonton. Hal itu menjadi bumerang bagi performa film ini serta beberapa kali diganggu oleh musik milik Michael Giacchino yang muncul terlalu sering. Sehingga, segala rasa emosional itu sering kali terasa manipulatif sekaligus memunculkan kesan dramatisasi yang berlebih. Meski begitu, trilogi Planet of the Apes ini adalah sebuah trilogi yang perlu untuk diapresiasi.

Selasa, 15 Agustus 2017

DUNKIRK (2017) REVIEW : Visual yang Subtil tentang Perang Dunia Kedua

 
Menceritakan sebuah kisah yang sudah menjadi bagian dari sejarah memang sudah biasa dilakukan oleh para sineas Hollywood. Ada berbagai macam jenis film yang berusaha menjelaskan berbagai macam peristiwa sejarah penting yang bisa memberi sebuah informasi sekaligus atensi dari penonton. Tetapi, bagaimana informasi tentang peristiwa penting itu dikemas menjadi sesuatu yang perlu untuk dikembangkan. Tentu, ada satu poin tertentu yang membuat film-film tentang sebuah peristiwa ini bisa terjebak dengan kemasan yang sama.

Christopher Nolan berusaha menantang dirinya sendiri untuk mengarahkan sebuah film tentang salah satu peristiwa sejarah penting yang ada di perang dunia kedua ini yaitu Battle of Dunkirk. Christopher Nolan mengemasnya menjadi sebuah film yang berjudul Dunkirk yang dibintangi oleh Tom Hardy, Cillian Murphy, Kenneth Branagh serta memberikan nafas baru dengan merekrut aktor-aktor baru seperti Fionn Whitehead dan Harry Styles.

Christopher Nolan adalah seorang sutradara yang biasanya terjun dalam film-film bertema science fiction atau yang memiliki jalan cerita penuh twist and turn. Tentu Dunkirk ini akan menjadi sesuatu yang terasa baru bagi Christopher Nolan untuk berusaha mengemas sebuah peristiwa sejarah penting yang mungkin akan terjebak dengan kemasan yang sama. Tetapi, Christopher Nolan tetaplah seorang Christopher Nolan. Sebuah peristiwa sejarah penting yang sudah memiliki linimasanya ini dikemas dengan pembagian 3 sudut pandang sekaligus 3 setting waktu yang berbeda. 


Membuat film yang sudah memiliki cerita di dunia nyata dan dikemas dengan cara seperti yang dilakukan oleh Christopher Nolan ini memang cukup riskan. Tetapi, Christopher Nolan sudah terbiasa untuk mengemas filmnya dengan linimasa waktu yang terpencar seperti ini. Sehingga, dalam pengaplikasiannya, Christopher Nolah berhasil membuat 3 linimasa waktu dan 3 sudut pandang ini menjadi sesuatu yang segar sekaligus unik untuk menceritakan peristiwa sejarah penting dalam sebuah film.

Sebagai sebuah perang, Dunkirkmemang akan terasa berbeda seperti film-film perang lainnya atau contoh yang paling baru adalah Hacksaw Ridge. Visual adalah kekuatan dari Dunkirkuntuk menimbulkan tensi dan emosi yang ada di dalam filmnya. Maka dari itu, kekuatan naskah yang ditulis sendiri juga oleh Christopher Nolan adalah bagaimana dirinya sebagai seorang sutradara dapat mengadegankan setiap gambarnya yang minim akan dialog tetapi memiliki penyampaian yang subtil. Memberikahan pemahaman kepada penontonnya tentang perang itu sendiri dengan caranya sendiri. 


Menceritakan tentang sebuah peristiwa perang di Dunkirk, ada banyak pasukan Inggris yang sudah terkepung dan tak bisa kembali ke tanah kelahirannya. Hal tersebut demi membela harga diri negara tersebut. Maka tiga sudut pandang dan tiga linimasa waktu ini diwakili oleh Tommy (Fionn Whitehead), Ferrier (Tom Hardy), dan Mr. Dawson (Mark Rylance). Mereka adalah perwakilan dari setiap sisi cerita dari perang di daerah Dunkirk ini.

Tommy, seorang tentara inggris yang sedang berusaha menyelamatkan dirinya bersama dengan teman-temannya. Ferrier, seorang pilot angkatan udara yang juga berusaha menjaga dan menyingkirkan serangan udara dari para musuhnya. Sedangkan, Mr. Dawson adalah seorang warga sipil biasa yang berinisiatif untuk menyelamatkan tentara-tentara yang sedang berusaha keras membela negaranya.


Meski setiap sudut pandangnya memiliki pion-pion utamanya untuk mengerakkan ceritanya. Tetapi, yang diinginkan oleh Christopher Nolan adalah mengenalkan peristiwa Dunkirk secara menyeluruh. Sehingga, aktor utama dari film ini adalah peristiwa Dunkirk itu sendiri yang dapat membuat penonton bergidik ngeri dan merasakan emosional yang terjalin di setiap rangkaian adegan yang diarahkan oleh Christopher Nolan. Penonton tak merasa perlu memihak karakternya, tetapi mereka perlu untuk memihak mereka semua secara keseluruhan dalam menghadapi peristiwa Dunkirk yang mencekam.

Meskipun, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Christopher Nolan ini memiliki resiko untuk membuat Dunkirktak bisa diterima secara universal. Penonton yang belum terbiasa dengan bagaimana sebuah pesan di dalam film disampaikan lewat sebuah gambar mungkin akan kesusahan untuk bersimpati. Mereka tak memiliki sosok karakter untuk menyamakan referensi dan pengalamannya hingga akhirnya dapat terkoneksi dengan apa yang ditampilkan di layar. Sehingga, penonton yang membutuhkan tuntunan karakter untuk menceritakan pesan di dalam filmnya.

Tentu, Directing dari Christopher Nolan adalah kunci dari keseluruhan presentasi dari film Dunkirk. Nolan berusaha untuk mengabungkan segala bentuk teknis untuk dapat menghasilkan sebuah presentasi film yang bisa memberikan aspek emosional yang diadegankan dengan sederhan tetapi punya dampak yang akan melekat. Dunkirkpenuh akan dramatisasi tanpa perlu ditampilkan berlebihan, sebuah kesederhanaan yang akan memunculkan aspek emosi yang mengharu biru dan getir untuk dirasakan oleh penontonnya. 


Kedetilannya dalam mengarahkan sebuah film diaplikasikan ke dalam sebuah tatanan teknis yang tak main-main. Pengambilan gambar yang dilakukan oleh Hoyte Van Hoytema ini juga menjadi aspek penguat bagaimana pengarahan Christopher Nolan yang kuat. Dunkirkmenjadi sebuah pengalaman sinematik yang sebenarnya di tahun 2017 ini. Gambar di dalam film Dunkirk ini adalah medium untuk menyampaikan pesan. Sehingga, penggunaan kamera IMAX 70 mm ini menjadi hal yang bukan sekedar gimmick, melainkan sebuah hal yang benar-benar krusial di dalam film ini.

Poin krusial di dalam film Dunkirktak hanya berhenti di dalam sisi pengambilan gambar, tetapi juga bagaimana suara juga menjadi hal penting. Christopher Nolan berusaha untuk memberikan atmosfir perang yang apa adanya, meskipun akan menjadi perdebatan apabila film tersebut tak memiliki pertumpahan darah. Tetapi, keputusan Nolan adalah tentang bagaimana memberikan pengalaman sinematik tetapi juga dengan atmosfir perang yang terasa nyata yang memiliki batasan bahwa Dunkirk tetaplah sebuah film. Sehingga, suara dan tata teknis kamera ini adalah sebuah ilusi dalam film ini yang bisa membuat penontonnya merasa terjebak di dalam situasi perang yang sesungguhnya. 


Maka, Dunkirk adalah sebuah cara bagi Nolan untuk memberikan sesuatu yang berbeda dengan pondasi cerita yang berdasarkan sebuah sejarah yang penting di linimasa perang dunia kedua. Tetapi, keputusan Christopher Nolan membuat Dunkirkmemiliki bahasa visual yang lebih kuat akan membuat penonton yang tak terbiasa akan tak dapat menyamakan referensi dan pengalamannya agar bisa bersimpati dengan apa yang disampaikan. Dengan begitu, Dunkirkakan terasa begitu tersegmentasi tetapi sekalinya Dunkirk akan tepat sasaran dengan segmentasinya, Dunkirk akan menjadi sebuah pengalaman sinematis yang sangat kuat sekaligus luar biasa emosional di sepanjang tahun sejauh ini. 

Sabtu, 15 Juli 2017

FILOSOFI KOPI 2 : BEN & JODY (2017) REVIEW : Revisi Nilai Hidup Untuk Sebuah Kedai Kopi

 
Kisah pendek yang diambil dari Dewi Lestari ini telah dibudidayakan menjadi sebuah produk yang namanya sudah mahsyur. Selain film, produk dari Filosofi Kopi ini diabadikan menjadi sebuah kedai kopi yang nyata. Dengan adanya konsistensi itu, tak akan kaget apabila film yang diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko ini akan mendapatkan sekuel sebagai perlakuan selanjutnya. Tentu, kekhawatiran akan muncul karena cerita pendek dari Filosofi Kopi pun hanya berhenti di satu sub bab yang telah dibahas di film pertamanya.

Sayembara muncul ditujukan kepada semua orang untuk membuat kisah lanjutan dari Ben dan Jody ini. Sayembara ini sekaligus memberikan bukti kepada semua orang bahwa Filosofi Kopi tetap menjadi film yang terkonsentrasi dari penonton seperti film pertamanya. Yang jelas, Angga Dwimas Sasongko tetap mengarahkan Chicco Jericho dan juga Rio Dewanto sebagai Ben dan Jody. Angga Dwimas Sasongko pun berkontribusi dalam pembuatan naskah dari cerita terpilih yang ditulis oleh Jenny Jusuf serta M. Irfan Ramli.

Meski tetap dipegang oleh sutradara dan orang-orang yang sama, sekuel dari Filosofi Kopi ini pun cukup membuat penonton khawatir. Ketakutan Filosofi Kopi 2 dengan subjudul Ben & Jody ini memunculkan penyakit dari film-film sekuel yang bisa saja jatuh dan tak sebagus film terdahulunya. Juga, kurang adanya urgensi di dalam latar belakang ceritanya yang dapat mendukung apa yang ditampilkan di layar. Tetapi percayalah dengan Angga Dwimas Sasongko, karena Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody tetap akan memikatmu dengan manis dan pahit kisahnya seperti kopi di pagi hari.

Ada formula yang diulang di dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini di dalam ceritanya. Tetapi, fokus cerita yang ada di Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini tak lagi mengenai bagaimana Filosofi Kopi sebagai kedai kopi ternama, melainkan tentang ranah domestik dalangnya. Menggali lagi personifikasi yang muncul dalam Filosofi Kopi yang dikonsumsi oleh penikmatnya. Sehingga, muncul problematika yang di film keduanya ini jauh memiliki nilai yang lebih personal dibanding film pertamanya. 

Rasanya tidak relevan membandingkan film keduanya ini dengan film pertamanya. Dengan konflik cerita yang lebih personal, tentu tujuan yang berusaha dicapai oleh Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini juga pasti akan berbeda. Dengan adanya nilai yang lebih personal di dalam konflik ceritanya, mungkin inilah yang membuat Filosofi Kopi 2 memberikan tambahan nama karakternya �Ben dan Jody �sebagai sub judulnya. Apabila dalam film pertamanya menggunakan kopi sebagai medium refleksi, di film keduanya ini menggunakan Kedai Kopi sebagai medium berkontemplasi atas filosofi hidup mereka sendiri.  


Melanjutkan kisah Filosofi Kopi pertama di mana Ben (Chicco Jericho) dan Jody (Rio Dewanto) yang sudah menjual kedainya dan memilih berjualan keliling Indonesia menggunakan Kombi. Setelah lama berkeliling menggunakan kombi berjualan dan membagikan Kopi, Ben merasa perjalanannya tak memiliki akhir dan tujuan dalam hidupnya. Ben pun membujuk Jody untuk kembali ke Jakarta dan menghidupkan lagi kedai Filosofi Kopi yang pernah dibangunnya itu.

Tetapi, membangun kembali kedai tak semudah yang dibayangkan. Jody harus memutar lagi otaknya untuk membeli lagi kedai yang telah dijualnya karena harga yang ditawarkan kepadanya sangat tinggi. Lalu, datanglah Tarra (Luna Maya), seorang perempuan yang menawarkan diri menjadi investor untuk Filosofi Kopi agar kembali bangkit seperti dulu. Dengan adanya Filosofi Kopi kembali, problematika tak hanya berhenti di situ saja. Ada konflik pribadi yang memacu mereka untuk kembali merenungi tentang apa yang mereka cari selama ini. 


Kesulitan untuk membuka kedai lagi tak hanya dialami oleh Rio Dewanto sebagai Jody, tetapi juga Angga Dwimas Sasongko untuk kembali membuat penonton percaya dengan sekuel Filosofi Kopi. Beruntung Angga Dwimas Sasongko selalu memiliki energi dalam setiap film yang diarahkan. Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody memasuki sebuah babak baru di dalam konfliknya yang tetap memiliki cita rasanya yang begitu kuat dan emosional untuk dinikmati penontonnya.

Konflik yang lebih personal ini adalah sebuah kunci tentang bagaimana karakter Ben dan Jody ini pada akhirnya bertransisi. Angga Dwimas Sasongko berusaha untuk memberikan pertanyaan kembali kepada karakternya tentang filosofi hidup seperti apa yang mereka ambil. Ada di setiap adegan dan dialog dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody memberikan banyak sekali rujukan yang juga membuat penontonnya ikut mempertanyakan tujuan dan nilai apa yang digunakan dalam hidup setiap orang.

Nyawa dari Kedai Filosofi Kopi ini adalah Ben dan Jody dengan sifat-sifatnya sendiri yang meskipun bertolak belakang tetapi bisa saling mengimbangi. Dengan keputusan mereka untuk kedai kembali,  ada ideologi yang mengalami revisi dan dipertanyakan lagi agar kedai Filosofi Kopi bisa berjalan lancar lagi. Hal itu dikarenakan bagaimana Ben dan Jody mengalami banyak sekali kejadian dan referensi dalam hidup yang membuat mereka mengalami kontemplasi. 


Poin-poin itu muncul di dalam naskah yang ditulis oleh Jenny Jusuf, M. Irfan Ramli, dan Angga Dwimas Sasongko sendiri. Dituliskan secara implisit di dalam adegannya dan Angga Dwimas Sasongko berhasil menyampaikannya dengan baik dan dapat dirasakan oleh penontonnya. Sensitivitas dalam mengarahkan inilah yang menjadi poin penting dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody. Bagi penonton yang mengikuti film pertamanya, akan terasa kontinuitas dari karakter Ben dan Jody yang mengalami transisi. Penonton seakan-akan tahu bahwa ada nilai-nilai yang direvisi dalam diri Ben dan Jody seperti kedai kopi mereka yang berusaha lahir kembali.

Kedai Filosofi Kopi kembali hadir tak hanya sekedar mengalami transisi dalam memberikan esensi, tetapi juga estetika yang memperkuat visualisasi. Gambar dan musik menjadi medium bernarasi lain dari Angga Dwimas Sasongko yang semakin memperkuat dialog-dialog antar karakter di dalam film Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody. Ada rasa khusyuk dan syahdu yang muncul yang bisa mempengaruhi penonton untuk dapat dinikmati setiap seduhannya. Sehingga penonton bisa ikut larut dan ikut merenungi bagaimana Ben dan Jody menemukan solusi yang tak saling menyakiti satu sama lain. 


Sesuai dengan sub judulnya, Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody memiliki penekanan khusus terhadap karakter utamanya. Sehingga, konflik yang muncul di dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini memiliki problematika dengan lingkup domestik yang akan terasa berbeda dengan film sebelumnya. Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini tak hanya sekedar memberikan konflik yang jauh lebih personal tetapi juga menjadi ruang bagi Ben dan Jody untuk berusaha berkontemplasi atas filosofi hidup yang mereka pegang selama ini. Dengan pengarahan Angga Dwimas Sasongko yang penuh atas kesensitivitasan ini, pesan yang secara implisit muncul itu dan berhasil disampaikan. Sehingga, di dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini terasa sekali berusaha memunculkan transisi Ben dan Jody seperti kedai mereka yang berusaha lahir kembali. 

Kamis, 13 Juli 2017

SPIDER-MAN : HOMECOMING (2017) REVIEW : Lika Liku Hidup Remaja Super


Setelah memiliki berbagai macam transisi dan pengulangan, pada akhirnya Marvel dan Disney memutuskan untuk mengakuisisi Spider-Man dari Sony untuk bisa masuk jajaran Marvel Cinematic Universe-nya. Dengan begitu, Marvel Cinematic Universe memiliki ekspansi dunia yang semakin rumit dan punya deretan manusia super yang semakin penuh sesak. Tetapi, hal itu bukan menjadi sesuatu yang perlu ditakutkan oleh Marvel Cinematic Universe karena dunianya sudah memasuki fase ketiga yang memang butuh komplikasi lebih.

Dengan bergabungnya Spider-Man menjadi salah satu anggota dari Marvel Cinematic Universe, akhirnya manusia laba-laba ini masuk menjadi pemeran pendukung di Captain America : Civil War. Kemunculannya di seri ketiga dari Captain America ini menjadi usaha mencari perhatian dari Marvel kepada fansnya. Sehingga, Spider-Man seolah-olah dilahirkan kembali dengan citra diri yang berbeda dengan film-film sebelumnya.

Spider-Man milik Marvel Cinematic Universe ini digambarkan memiliki usia yang jauh lebih muda dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Dan kali ini, Jon Watts menjadi orang yang memiliki kontrol atas apa yang ditampilkan di film Spider-Man terbaru dengan judul Spider-Man : Homecoming. Kali ini, kisah tentang Peter Parker memiliki atmosfir dunia sekolah menengah atas yang jauh lebih kental dari film-film sebelumnya. Serta, Spider-Man : Homecoming berusaha keluar dari kisah-kisah generik yang dipakai oleh film-film sebelumnya. 


Seiring dengan diakuisisinya Spider-Man, Disney dan Marvel tak ingin lagi terjebak dengan cerita-cerita yang serupa. Maka dari itu, Spider-Man : Homecoming berusaha memberikan perspektid yang berbeda. Begitu pula dengan pemeran Peter Parker yang juga ikut diganti. Dari Tobey McGuire menjadi Andrew Garfield, kali ini Peter Parker diperankan oleh Tom Holland yang masih remaja. Hal ini sesuai dengan bagaimana Marvel dan Disney berusaha keras memberikan diferensiasi dari film-film Spider-Man sebelumnya.

Dengan keluar dari babak cerita yang berbeda, Spider-Man : Homecoming berusaha untuk menjadi lebih dari sekedar film manusia super yang menyenangkan. Film yang diarahkan oleh Jon Watts ini membuat Spider-Man : Homecoming yang sedang menceritakan transisi dari kehidupan Peter Parker yang sedang dalam fase remaja. Menciptakan atmosfir coming of age dengan nuansa yang lebih kental untuk mengetahui bagaimana kehidupan Peter Parker secara lebih intim. 


Keintiman itu bermula di sebuah sekolah menengah atas di daerah Queens, kota kecil tempat Peter Parker (Tom Holland) tinggal. Paska pertemuannya dengan Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang sedang bertarung sengit dengan Steve Rogers (Chris Evans), Peter merasa bahwa dirinya adalah orang yang sangat penting bagi dunia ini. Dengan keterlibatannya itu, Peter merasa bahwa di kota kecil ini penuh akan kejahatan dan ketidaknyamanan yang perlu dilibas olehnya. Tetapi sikap Peter Parker yang ingin terlibat itu, membuat dirinya malah terjebak dalam masalah.

Peter menemukan transaksi senjata ilegal dengan teknologi mutakhir yang diambil dari bekas-bekas pertarungan anggota Avengers dengan musuh-musuhnya. Peter berusaha memgingatkan Tony Stark tentang keadaan ini, tetapi tidak ada yang menggubrisnya. Dengan adanya kejahatan itu, Peter Parker tak tinggal diam. Dia berusaha sendiri untuk menangkap dan mencari tahu siapa dalang di balik penjualan senjata ilegal ini. Tetapi, Peter Parker juga mendapatkan resiko yang sangat besar dari apa yang dia lakukan.


Kentalnya atmosfir remaja di dalam film Spider-Man : Homecoming ini seakan-akan memberikan nafas baru di deretan film-film manusia super milik Marvel. Bagaimana Jon Watts memvisualisasikan bagaimana Peter Parker sebagai sosok karakter yang tetap tak bisa lepas dengan kehidupannya sebagai orang biasa. Memiliki alter ego menjadi sosok manusia super tetapi juga tetap menjadi remaja dengan perputaran problematika yang tak jauh-jauh dari percintaan, persahabatan, dan popularitas saat SMA.

Inilah yang membuat Spider-Man : Homecoming memiliki diferensiasi dengan film-film manusia laba-laba yang lain. Atribut remaja seperti malam prom, pesta, dan persahabatan yang sekaligus menjadi karakter pendukung ini selalu ada dalam film-film yang menggambarkan transisi kehidupan remaja. Tetapi, Jon Watts berusaha untuk berkiblat pada film-film remaja khas dari John Hughes seperti The Breakfast Club dan Sixteen Candles. Referensi itu pun semakin terlihat kentara dengan bagaimana Jon Watts menyelipkan sedikit cuplikan adegan dari Ferris Bueller�s Day Off di dalam filmnya.

Penonton diajak kembali ke masa-masa remaja sekolah menengah atas di dalam sebuah film manusia super dan Spider-Man : Homecoming berhasil memunculkan hal tersebut. Meskipun plot ceritanya masih terlihat generik sebagai sebuah film kisah asli dari seorang manusia super, tetapi ada usaha dari Jon Watts untuk berusaha memberikan diferensiasi tersebut. Tahu akan kelemahannya untuk membuat spektakel aksi, Jon Watts berusaha dengan memberikan kedekatan karakter Peter Parker dengan karakter lainnya. 


Secara aksi, Jon Watts masih belum bisa memberikan detil-detilnya. Pertarungan akhir yang diarahkan di dalam Spider-Man : Homecoming belum bisa memberikan sesuatu yang mencengkram dan kalah dengan adegan pertarungan sebelumnya. Tetapi, Jon Watts bisa mengemas dan menyatukan drama coming of age dengan tetap memiliki cita rasa film manusia super inilah yang perlu diapresiasi. Ketelitian Jon Watts ini adalah kekuatan dari Spider-Man : Homecoming yang bisa setara memberikan porsi di antara dua atmosfir yang berbeda ini dan tampil begitu menyenangkan di dalam film ini.

Spider-Man : Homecoming itu pun tak serta merta menjadi sebuah superhero spin-off film yang memang harusnya ada untuk menceritakan siapa itu manusia laba-laba ini. Tetapi, konflik yang ada di dalam film Spider-Man : Homecoming memberikan relevansi dan ekspansi dengan segala hal yang ada di Marvel Cinematic Universe. Dengan adanya film ini menandakan bahwa fase ketiga di dalam Marvel Cinematic Universe bukan sekedar tentang penambahan karakter, tetapi memang dunianya yang semakin besar. Tentang bagaimana apa yang dilakukan oleh manusia super ini benar-benar dapat berdampak kepada siapapun. 


Oleh karena itu, Spider-Man : Homecoming bisa dibilang menjadi salah satu film penting yang dapat memberikan ekspansi lebih terhadap Marvel Cinematic Universe. Sebuah kisah asli yang memang memiliki plot yang lurus-lurus saja, tetapi dikemas dengan atmosfir yang berbeda. Sehingga, Spider-Man : Homecoming menjadi sesuatu yang segar untuk disantap. Memiliki atmosfir coming of age dengan berbagai macam tribut kepada film-film John Hughes yang kental. Dengan begitu, penonton bisa merasa dekat dengan Peter Parker yang sedang berusaha keras dengan kehidupan remajanya. Jon Watts bisa memberikan pergantian dua atmosfir tanpa merusak esensi dari keduanya. Sehingga, Spider-Man : Homecoming adalah sebuah drama transisi remaja dengan kekuatan super yang sangat menyenangkan.  

Spider-Man : Homecoming juga tampil dalam berbagai format, salah satunya yaitu IMAX 3D Format. Berikut adalah rekapan dari format IMAX 3D film Spider-Man : Homecoming.

DEPTH 

Punya kedalaman yang menarik, sehingga menonton Spider-Man : Homecoming terasa seperti mengintip dari jendela kamar kita

POP-OUT 

Mungkin tidak ada apapun yang bisa keluar dari layar di film Spider-Man : Homecoming. Film ini hanya menekankan tentang kedalaman gambar saat ditonton di format IMAX 3D.

Tonton saja film ini dalam format IMAX 3D. Sangat direkomendasikan, apalagi format IMAX 3D hanya selisih sedikit saja dengan layar reguler.

Kamis, 28 Juli 2016

BANGKIT! (2016) REVIEW : Pionir Genre Baru di Perfilman Indonesia


Genre perfilman Indonesia akhir-akhir ini pun semakin berwarna. Mulai dari drama, komedi, hingga film aksi mulai sering dibuat oleh film-film Indonesia. Hingga pada akhirnya, Oreima Films dan juga Kaninga Pictures berusaha untuk memberikan sebuah genre baru di perfilman Indonesia untuk mewarnai keragaman di dalamnya. Muncullah sebuah ide untuk membuat sebuah disaster movie yang mungkin sudah bukan hal baru di industri perfilman Hollywood.

Proyek ini sudah terdengar proses pembuatannya sejak tahun 2015, dengan banyak memunculkan teaser-teaser poster yang cukup menggugah minat calon penontonnya. Jakarta Bangkit pada awalnya menjadi judul atas proyek film ini hingga pada akhirnya memutuskan untuk memilih judul Bangkit! sebagai judul akhir. Dengan tagline �karena menyerah bukan pilihan�, Rako Prijanto berusaha keras untuk mengarahkan film bencana pertama yang ada di Indonesia yang dibintangi oleh Vino G. Bastian, Acha Septriasa, Deva Mahenra, dan juga Putri Ayudya.

Sebagai yang pertama di perfilman Indonesia, Bangkit! mungkin akan dipenuhi dengan banyak pertaruhan. Entah secara kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan oleh film Bangkit! ini sendiri. Apalagi, film ini dipenuhi dengan gegap gempita visual efek yang mulai dari awal film hingga akhir. Yang mana, di dalam bidang tersebut film-film Indonesia mungkin bisa dikatakan belum mahir bahkan masih sangat lemah. Sehingga, tak salah jika penonton masih merasa was-was dengan film ini. Tetapi, Bangkit!adalah sebuah film Indonesia yang penting untuk diapresiasi di tahun 2016 ini. 


Bangkit! terinspirasi dengan sebuah realita tentang kota Jakarta yang sering terkena banjir. Maka, Rako Prijanto dan tim berusaha untuk membentuk sebuah bahasa visual yang dapat menjelaskan realita itu dengan karakter-karakternya. Di mana, Addri (Vino G. Bastian) adalah kepala dari sebuah keluarga bahagia bersama Indri (Putri Ayudya). Addri pun sangat berjasa dengan jasanya sebagai ketua Basarnas yang selalu sigap atas keluh kesah warga kota Jakarta. Ketika sebuah bencana datang, Arifin (Deva Mahenra) adalah seseorang yang ditolong olehnya.

Bencana tersebut membuat Arifin datang ke upacara pernikahannya dengan sang kekasih, (Acha Septriasa) karena tenggelam di sebuah bangunan karena banjir. Tetapi, kegentingan masalah pribadi tersebut ternyata hanya menjadi sedikit kecil dari problematika yang ada. Karena masalah terbesar adalah Jakarta sudah dalam fase banjir yang menghawatirkan. Badai terus menyerang kota Jakarta hingga volume air sudah tak dapat menampung. Addri dan Arifin mencoba untuk mencari solusi atas bencana yang tak kunjung berhenti ini. 


Bangkit! mungkin memiliki cerita-cerita khas Hollywood dalam membangun sebuah film dengan tema bencana di dalam filmnya. Bangkit! terlihat memiliki banyak referensi dengan tema-tema film serupa, sehingga Bangkit! mungkin memiliki sebuah kematangan dalam mengemas filmnya. Karakter di dalam film Bangkit! memang terlampau banyak dengan problematikanya masing-masing. Akan terasa sekali di awal film, Rako Prijanto kebingungan untuk mengenalkan satu persatu karakter di dalam film Bangkit!

Belum selesai dalam mengenalkan para karakternya, Rako Prijanto langsung menghajar penonton dengan konflik utama di dalam film Bangkit!. Sehingga, penonton mungkin terasa sedikit kesusahan untuk memberikan sebuah simpatinya dengan para karakter di dalam film ini. Namun, perlahan Rako Prijanto tahu untuk mengarahkan subplot ceritanya yang belum cukup tertata di 20 menit awal film. Semakin lama, Bangkit! semakin mencengkram penontonnya dengan konflik-konflik yang ada.

Bangkit! akhirnya menyatukan semua problematika karakter sehingga dapat memberikan fokus besar terhadap konflik utama di dalam film ini. Sebagai sebuah pionir atas film dengan genre bencana ini, Bangkit! mungkin akan terjebak dalam sebuah film yang dijadikan sebagai ajang pamer atas pencapaian visual efek. Ternyata Bangkit! berada di luar dugaan. Tahu bahwa film ini masih lemah dalam menampilkan gegap gempita visual efek, Bangkit! berusaha untuk berusaha mencengkram penontonnya dengan konflik-konflik yang menumbuhkan sebuah simpati. 


Rako Prijanto berhasil memunculkan sebuah emosi dari setiap karakternya meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu pun dipengaruhi oleh plot-plot sampingan dari film Bangkit!yang terlalu banyak. Sehingga, mungkin durasi film terasa membengkak hingga 122 menit karena membutukan penyelesaian di setiap konfliknya. Tetapi, Bangkit! bisa memberikan sesuatu yang menarik yang membuat penonton betah mengikuti konfliknya hingga akhir.

Bicara tentang visual efek, Bangkit!mungkin masih memiliki kelemahan dalam presentasinya. Tetapi kerja kerasnya dalam memberikan sebuah detil-detil di dalam editing visual efeknya, hal tersebut patut untuk diacungi jempol. Beberapa mungkin terlihat kasar, tetapi beberapa efeknya masih mampu memberikan sebuah tensi di dalam filmnya. Secara visual efek, Bangkit! jelas tak bisa dibandingkan dengan film-film luar negeri yang sudah terbiasa dengan grafis komputer. Sehingga, dalam menilai film ini tentu perlu parameter yang berbeda. 

 
Maka, sebagai sebuah pionir sebuah film dengan genre seperti ini, Bangkit! bisa dikatakan memiliki presentasi yang berhasil. Meskipun, Bangkit!masih memiliki problematika dalam memberikan sebuah keterikatan dengan penontonnya, tetapi pada akhirnya Bangkit!berhasil menumbuhkan simpati penonton setelah 20 menit pertama. Pun, hal itu semakin mengikat penonton hingga akhir film dan bagusnya Bangkit! mengetahui kelemahannya dalam memamerkan visual efek yang luar biasa. Sehingga, Rako Prijanto menjadikan hal tersebut sebagai sebuah bonus yang berbeda di perfilman Indonesia. Jadilah, Bangkit! sebagai salah satu sebuah film Indonesia yang penting di tahun ini dan berbeda. 

Rabu, 27 Juli 2016

KOALA KUMAL (2016) REVIEW : Komedi Problematika Remaja Dengan Cara Lebih Dewasa


Raditya Dika sepertinya telah menjadi sebuah brand di kalangan perfilman Indonesia. Filmnya laris manis dan selalu memasuki tangga perolehan penonton terbanyak. Seperti tahun lalu, filmnya berjudul Single menjadi film terlaris nomor dua dengan perolehan 1,2 juta penonton. Lambat laun, permintaan atas film-film karya Raditya Dika pun bertambah. Sehingga, film-film yang digarap olehnya akan dinantikan oleh banyak penonton.
 
Koala Kumal, termasuk menjadi salah satu film yang dinantikan di tahun 2016. Menetapkan tanggal jadwal pada libur lebaran 2016, film Raditya Dika jelas digadang akan menjadi salah satu film terfavorit tahun ini. Beberapa mungkin akan antipati dengan film-film Raditya Dika karena beberapa orang merasa tidak cocok dengan gaya diusung olehnya. Film-filmnya memang bertemakan komedi yang mungkin akan terasa hit and miss. Raditya Dika sepertinya mengusung sebuah film komedi canggung yang berada di dalam karakternya. Dan Koala Kumal termasuk karya dengan tema itu.

Akan terasa bahwa di setiap film-film Raditya Dika muncul formula-formula yang repetitif. Tetapi, formula film miliknya yang repetitif itu mungkin semakin lama membuat Raditya Dika belajar untuk lebih baik. Performa film miliknya mungkin menuju puncak karirnya lewat Single yang memiliki improvisasi dari penyampaian hingga penampilan. Koala Kumal pun demikian, secara penampilan mungkin film ini sama dengan film-film Raditya Dika terdahulu. Tetapi, perbedaannya adalah Koala Kumal ini memiliki kedewasaan di dalamnya tetapi masih memiliki gaya komedi canggung khas miliknya. 


Perjalanan cerita Koala Kumal lagi-lagi dimulai ketika Dika (Raditya Dika) sedang mengalami sebuah patah hati terhebat. Pengalaman asmaranya berujung tragis, ketika Andrea (Acha Septriasa) dan Dika sudah mempersiapkan segala persiapan pernikahan. Andrea memutuskan untuk putus dengan Dika dan memilih pria lain bernama James (Nino Fernandez). Hal tersebut mempengaruhi perilaku Dika sehari-hari, dan suatu ketika sang Ibu berusaha menjodohkan Dika dengan anak sahabatnya.

Ketika berusaha menghindari perjodohan yang dilakukan oleh sang Ibu, dia bertemu dengan seorang perempuan bernama Trisna (Sheryl Sheinafia). Pada awalnya, Trisna hanya meminta Dika untuk datang ke klub buku miliknya untuk sekedar berbagi cerita. Tetapi, Trisna dan Dika semakin akrab dan Trisna sedang berusaha untuk membuat Dika melupakan masalahnya yang sedang patah hati. Banyak langkah-langkah yang ditawarkan oleh Trisna untuk mencari cara agar Dika berhenti untuk merasakan patah hati dan melanjutkan hidupnya. 


Patah hati, kesendirian, dan jatuh cinta adalah formula-formula yang sering digunakan oleh Raditya Dika di dalam film-film miliknya. Konsep tersebut hanya dibongkar pasang hingga membentuk sebuah jalinan plot cerita untuk film terbarunya. Tetapi, penggunaan formula yang itu-itu saja dalam sebuah film mungkin tak masalah. Hanya saja, penonton harus ditawarkan sebuah perubahan pengemasan agar penonton tak merasa jenuh dengan sebuah film dengan formula yang sama.

Koala Kumal beruntungnya memiliki kemasan yang berbeda dengan film-film Raditya Dika sebelumnya. Dengan plot atau premis yang bongkar pasang dan itu-itu saja, Koala Kumal menawarkan suatu hal yang berbeda di sini. Ada sebuah kedewasaan yang ditawarkan oleh Raditya Dika saat dia berusaha menyampaikan tentang problematikanya yang mungkin terkesan masih remaja. Pun, Raditya Dika masih menyelipkan komedi-komedi miliknya yang mungkin terasa begitu-begitu saja.

Konsep bagaimana Raditya Dika memberikan komedi adalah mengusung tema-tema kecanggungan dirinya sendiri. Itulah yang menjadi signature atau kekhasan dari Raditya Dika di setiap filmnya, dan begitu pula yang ada di Koala Kumal. Mungkin beberapa ada yang bisa membuat orang-orang tertawa, tetapi tak banyak pula yang membuat penonton sekedar tersenyum kecil. Hit and miss dalam sebuah film komedi pun memang terkesan lumrah terjadi.  Koala Kumal memang seperti itu tetapi yang ditekankan di dalam film terbaru Raditya Dika bukan cuma perkara lucu atau tidak. 


Ada sebuah perasaan nyaman dan pembelajaran tentang patah hati yang bisa diaplikasikan penontonnya dari film Koala Kumal. Raditya Dika pun lebih belajar untuk memberikan sebuah penyampaian yang lebih kondusif daripada film-film sebelumnya lewat Koala Kumal. Presentasi sebuah film mungkin juga mempengaruhi bagaimana seorang sutradara untuk bercerita. Tetapi di dalam Koala Kumal segala presentasi teknis mungkin masih kalah dengan Single, hanya saja di sini Raditya Dika menawarkan solusi terhadap bagaimana Dika yang selalu memiliki isu dalam penyampaian cerita miliknya.

Ada sebuah kesan unik yang berusaha ditampilkan lewat Koala Kumal, bukan hanya dari segi naskah tetapi juga karakter-karakter di dalam filmnya. Sehingga, keunikan yang ada di dalam naskah film ini pun terwakili dengan karakter Trisna yang nyentrik. Di mana peran itu seperti memberikan pesan kepada penontonnya bahwa Raditya Dika memiliki gayanya sendiri di dalam film-filmnya, khususnya Koala Kumal. Tetapi, dia tetap menawarkan sebuah kejujuran lewat karakter-karakternya sehingga masih memiliki sisi humanis yang manis untuk digali.

Juga, Koala Kumal memiliki aktris-aktris cantik yang dapat dilirik secara kualitas. Secara mengagetkan, Sheryl Sheinafia hadir dengan performa yang luar biasa. Memerankan karakter unik Raditya Dika dengan senang dan tanpa beban. Sehingga, karakter Trisna terasa hidup dan berwarna untuk disimak oleh penontonnya. Juga, bagaimana performa Acha Septriasa yang ternyata bisa memberikan performanya di dalam sebuah film komedi. 


Sehingga, Koala Kumal pun dapat dinobatkan sebagai film terbaik Raditya Dika sejauh ini karena ada perbedaan yang ditawarkan oleh filmnya. Bukan secara plot cerita atau pencapaian teknis yang luar biasa, tetapi bagaimana Raditya Dika menyampaikan plot cerita tersebut yang memiliki sebuah kedewasaan di dalamnya. Formula-formula yang digunakan oleh Raditya Dika mungkin masih itu-itu saja. Pun, masih menggunakan signature miliknya dalam menyampaikan komedi di dalamnya yang masih hit and miss. Tetapi ada sebuah perasaan berbeda, ada perasaan nyaman dan menyenangkan yang ditemukan di dalam komedi patah hati terbaru milik Raditya Dika.   

Sabtu, 23 Juli 2016

ILY FROM 38.000 FT (2016) REVIEW : Film Cinta Yang Terbang Tak Terlalu Tinggi


Kisah cinta klise dua insan memang mungkin memiliki segmentasinya sendiri. Bisa jadi, film-film dengan tema seperti itu menjadi sebuah guilty pleasure yang dinikmati oleh banyak orang. Tetapi bila salah pengemasan, hal tersebut akan menjadi senjata makan tuan bagi pembuatnya. Jika salah film dengan genre ini akan kehilangan segmentasinya. Bahkan kekecewaan bukan hanya datang untuk segmentasi tersebut, tetapi juga penonton luas yang ingin menyaksikan film tersebut. 
 
Di banyak judul film-film Indonesia, genre ini menjadi salah satu yang sering muncul. Banyak sekali judul yang menggunakan formula tersebut. Formula-formula plot ceritanya pun hampir sama, hanya saja dikemas berbeda di setiap judul filmnya. Screenplay Production adalah salah satu rumah produksi yang selalu menghasilkan film-film dengan genre terkait. Bahkan, film-film produksinya mendapatkan perolehan angka penonton yang fantastis. Tahun ini pun, London Love Story, meraih 1 juta penonton.

Dengan adanya fenomena ini, Screenplay Production pun semakin gencar memproduksi film-film. Asep Kusdinar tetap didapuk sebagai sutradara andalan dari rumah produksi tersebut. Film kedua dari rumah produksi satu ini adalah I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT). Bekerja sama dengan Legacy Pictures, film ini tetap menggunakan formula yang sama dan bongkar pasang nama pemain dari film-film sebelumnya. Dan kali ini, nama Michelle Ziudith dan Rizky Nasar kembali dipasangkan di film terbarunya. 


Plot cerita I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) pun penuh dengan kisah pertemuan sepasang sejoli. Meracik formula-formula usang untuk menjadi sebuah plot cerita yang dibedakan latar dan konfliknya. Itulah yang dilakukan oleh I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) yang menceritakan tentang Aletta (Michelle Ziudith) yang sedang kabur dari rumahnya ke Bali. Di dalam pesawat perjalanannya menuju Bali, dia bertemu dengan Arga (Rizky Nasar) yang bekerja di sebuah saluran tentang alam.

Arga sedang membutuhkan seorang pembawa acara karena pembawa acara miliknya sedang sakit. Aletta pun berinisiatif untuk membantu Arga untuk menjadi pembawa acara di sana. Tetapi, hal tersebut menjadi polemik bagi rekan-rekan kerja Arga. Tetapi, Arga tetap memintanya sebagai pembawa acara bagi saluran miliknya. Di saat itulah, tumbuh rasa di hati Aletta terhadap Arga. Dia jatuh cinta dengan sosok dingin Arga yang entah akan mencintai dia kembali atau tidak. Yang jelas, Aletta benar-benar menaruh hati kepada Arga. 


Maka, bersiaplah dengan apa yang ditawarkan oleh I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT). Secara garis besar plot cerita, mungkin hal-hal itu wajar terjadi di dalam film-film serupa. Tetapi, I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) dikemas dengan dialog-dialog puitis masa kini yang mungkin akan menyenangkan segmentasinya sehingga menimbulkan fenomena #BaperBarBar. Dialog-dialog tersebut mencoba untuk terlihat memiliki makna yang dalam tentang suatu hubungan. Nyatanya, dialog-dialog tersebut ternyata tak memiliki dampak selain kesan mendayu-dayu yang coba ditekankan oleh filmnya.

Semua dialog yang dilantunkan oleh para pemainnya pun terkesan janggal dan canggung untuk didengarkan. Pun, ikatan kedua pemainnya belum muncul terlalu kuat. Sehingga, muncul kesan malas di antara kedua pemainnya, entah akan banyaknya dialog yang harus dia hafalkan atau pemain utamanya hanya sekedar bosan. Bisa jadi, kedua pemainnya mungkin tak mendapatkan peran yang memiliki signifkansi di antara kedua film sebelumnya. Hingga, mereka pun juga tak memunculkan performa yang maksimal.

Tak ada perkembangan yang dilakukan oleh Michelle Ziudith dan juga Rizky Nasar. Bahkan keduanya pun seperti tak punya kekuatan untuk mengeksplorasi karakternya. Permainan karakter yang diperankan oleh mereka pun terkesan seperti kertas yang tipis, tak bisa memberikan sebuah emosional sehingga penonton merasa simpati. Itulah, yang membuat I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) tak bisa memiliki presentasi yang mumpuni di tengah premis ceritanya yang bukan menjadi senjata andalannya. Bahkan, dalam penyampaian plotnya juga mengalami masalah. 


I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) mengalami berbagai kekurangan. Bagaimana sang sutradara menjelaskan setiap konflik yang terkesan seperti memotong beberapa bagian penting di dalam naskahnya yang seharusnya jadi alasan utamanya. Sehingga, apa yang ditampilkan di dalam cerita I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) terkesan loncat-loncat dan terlalu buru-buru. Asep Kusdinar lebih menonjolkan dialog-dialog yang terdengar �ajaib� itu ketimbang alasan-alasan penting di dalamnya. Di mana, hal tersebut sangat berpengaruh bagi kelangsungan durasinya yang mencapai 100 menit.

Di bawah naungan Legacy Pictures, I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) mengalami perubahan secara signifikan secara teknis. Tata suara dan tata gambar di dalam I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) adalah poin yang mengalami perubahan dibandingkan dengan dua film Screenplay Production sebelumnya. I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) terasa lebih sinematis, sehingga tata dan nilai produksi teknis filmnya lebih layak jika dikategorikan ke dalam film yang rilis di bioskop. 


Maka, problematika yang ada dalam presentasi I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) ini adalah plot cerita dan penyampaian yang masih belum bisa dikategorikan ke dalam pengalaman sinematis. Michelle Ziudith dan Rizky Nazar pun belum bisa mengeksplorasi dan terjebak ke dalam karakter yang itu-itu saja. Sehingga, tampil interpretasi  bahwa mereka terasa malas dan apa adanya untuk bermain di dalam film I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT). Tetapi, secara teknis, I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) terasa lebih pas untuk disaksikan di bioskop.  

Kamis, 30 Juli 2015

SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (2015) REVIEW : Dongeng Islami Yang Naif


Bertepatan dengan Lebaran, rumah produksi di Indonesia berlomba-lomba untuk menyajikan film-film terbaru mereka. Dengan catatan, di dalam musim libur lebaran, mereka dapat mendapatkan jumlah penonton yang fantastis. Banyaknya rumah produksi yang merilis film mereka di musim lebaran membuat penonton lokal memiliki alternatif tontonan yang beragam untuk disantap saat musim libur lebaran tiba.
 
Dengan tahu adanya peluang untuk mendapat keuntungan, rumah-rumah produksi tersebut merilis filmnya dengan genre yang bervariasi. Dan salah satu tema yang selalu ada di film-film libur lebaran adalah film bertema religi. Dan kali ini, giliran MD Pictures untuk merilis sebuah film religi yang diarahkan oleh Kuntz Agus. Diadaptasi dari salah satu buku dari penulis terkenal, Asma Nadia, Surga Yang Tak Dirindukan menjanjikan sesuatu yang haru biru.

Dibintangi oleh Fedi Nuril, Laudya Cynthia Bella, dan Raline Shah menjadi faktor utama bahwa film ini setidaknya menjanjikan aktor aktris yang memanjakan penontonnya lewat paras mereka. Surga Yang Tak Dirindukan pun diharapkan dapat menarik penonton �khususnya wanita paruh baya berhijab �agar menyaksikan drama cinta dilematis dengan sokongan ayat-ayat suci di dalam presentasinya. Mengangkat sebuah kisah cinta yang terlalu bermimpi, setidaknya Kuntz Agus masih tahu mengarahkan filmnya agar tak terlalu basi. 


Kembali lagi, sebuah kisah cinta poligami yang dibintangi oleh Fedi Nuril. Pras (Fedi Nuril), lelaki yang sedang menyelesaikan sebuah tugas akhir ini tiba-tiba jatuh cinta terhadap sosok gadis lugu berhijab bernama Arini (Laudya Cynthia Bella). Arini adalah seorang wanita yang senang mendongeng di sebuah surau di Jogja. Berawal dari saling tukar nomer telepon, mereka saling kontak satu sama lain. Sehingga, mereka berdua merasa cocok dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Pernikahan Pras dan Arini pun membuahkan seorang putri bernama Nadia. Kehidupan pernikahan Arini dan Pras sangat bahagia layaknya sebuah dongeng yang diidamkan oleh Arini. Hingga suatu ketika, kehidupan pernikahan mereka berubah. Pras menemukan seseorang bernama Meirose (Raline Shah) yang sedang putus asa dan ingin bunuh diri karena gagal menikah dengan kekasihnya. Upayanya dicegah oleh Pras dengan janji akan menikahi Meirose yang bermaksud beritikad baik. Pras menyembunyikan pernikahannya dengan Meirose dan suatu ketika Arini mengetahui hal tersebut. 


Surga Yang Tak Dirindukan jelas tak bisa jauh dalam mengeksploitasi tangis haru biru agar mampu menguras air mata penontonnya, khususnya penonton wanita. Dan juga, eksploitasi pernikahan poligami dengan sokongan hadits-hadits dan juga ayat suci Al-Qur�an supaya konflik tersebut masih memiliki pondasi ajaran islam sehingga tak melenceng. Hanya saja, dengan adanya dasar dari ajaran suatu kepercayaan tak lantas membuat film ini jauh dari kesan naif.

Tak ada yang salah dengan hasil kerja dari Kuntz Agus dalam mengadaptasi novel dari Asma Nadia. Dengan jalan cerita yang terlalu naif dan bahkan cenderung memiliki masalah yang klasik, Surga Yang Tak Dirindukan masih memiliki pengarahan yang baik dari Kuntz Agus. Sehingga, problematika rumah tangga milik Pras dan Arini masih memiliki irama yang tepat di dalam presentasi. Penonton akan masih mudah menikmati hasil arahan dari Kuntz Agus.

Hanya saja, mungkin ada kesalahan dari sumber yang diadaptasi dari Kuntz Agus. Sumber asli yang ditulis langsung oleh Asma Nadia di dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan. Konflik-konflik yang dihadirkan tak ingin mencari penggambaran yang berbeda tentang konflik rumah tangga beristri tiga. Penggambaran karakter lelaki yang sholeh dan �tak tahu disengaja atau tidak �kembali diperankan oleh Fedi Nuril ini pun masih terkesan stereotip. Mengatasnamakan kelemahan wanita untuk sekali lagi merajut hubungan sah dengan wanita tersebut pun terkesan tak wajar. Apa lagi alasan yang terkesan mengada-ada membuat konflik Surga Yang Tak Dirindukan menjadi nyeleneh. 


Entah, apakah konflik-konflik seperti ini yang diidam-idamkan oleh para penonton, terutama wanita paruh baya berhijab, sebagai target pangsa pasar mereka. Menyaksikan sebuah film sebagai medium hiburan, tentu perlu memiliki referensi dan pengalaman yang sama agar penonton bisa memiliki keterikatan dengan karakternya. Pun rasanya terasa tak relevan, jika sang pangsa utama film ini memiliki keterikatan yang sama dengan konfliknya. Hanya saja, ada atribut �hijab� yang dipasang dan simbol tersebut setidaknya memiliki relevansi yang sama dengan penontonnya.

Surga Yang Tak Dirindukan memang mampu menghadirkan suasana-suasana haru biru yang mampu menjadi bahan penguras air mata. Didukung dengan scoring yang grande meski (selalu) overused, hal ini diharapkan mampu mengoyak suasana hati penontonnya. Kuntz Agus masih mencari cara bagaimana mengemas sumbernya yang klise ini menjadi suatu tontonan yang berbeda. Meski tetap saja, Surga Yang Tak Dirindukan tak bisa jauh-jauh dari kesan tersebut. 


Tak ada yang menonjol, dari departemen aktingnya. Fedi Nuril tetaplah menjadi Fedi Nuril yang selalu memerankan karakter yang sama di setiap filmnya. Raline Shah sedikit berkembang dan Laudya Cynthia Bella mampu memberikan performanya yang bak di atas panggung dongengnya. Surga Yang Tak Dirindukan bisa jadi adalah sebuah kisah dongeng. Penuh dengan berbagai macam hal yang menerbangkan harapan para wanita berhijab yang memimpikan seorang imam yang menuntunnya menuju surga.

Meski tak ada yang salah dengan arahan dari Kuntz Agus, Surga Yang Tak Dirindukan tetap tak memiliki sesuatu yang mencoba berbeda dalam konflik dan penggambaran karakternya. Kenaifan tersebut menjadi kendala dari film ini untuk mampu tampil menjadi sajian haru biru yang sebenarnya enak untuk diikuti. Dan seperti karakter Arini, wanita dengan atribut hijab yang sama dengan Arini akan menjadikan Surga Yang Tak Dirindukan sebagai sebuah dongeng yang menjadi harapan mereka.
 

2014 © Movieism
RealMag theme by Templateism - Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger