Advertisement

Tampilkan postingan dengan label Abimana Aryasatya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abimana Aryasatya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Oktober 2017

WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS PART 2 (2017) REVIEW : Euforia dan Nostalgia Film Indonesia

Tak disangka, Warkop DKI Reborn sukses menjadi film terlaris di tahun 2016 bahkan predikatnya pun menjadi film terlaris sepanjang masa. Dengan perolehan 6,7 juta penonton ini, jelas Warkop DKI Reborn adalah prospek yang sangat besar bagi Falcon Pictures untuk menelurkan karya-karya lainnya atas nama Warkop DKI. Sayangnya, di tahun 2017 ini, Warkop DKI Reborn tak menelurkan sebuah judul baru untuk dapat dinikmati oleh penontonnya. Melainkan ini adalah lanjutan dari bagian pertama yang diputus di tengah jalan.

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss ini dibagi menjadi dua film yang saling berkesinambungan. Bagian keduanya dirilis tahun ini untuk menjawab apa yang selanjutnya terjadi di akhir film bagian pertama. Semangat nostalgia menjadi senjata utama dari Anggy Umbara untuk film-film Warkop DKI Reborn-nya ini. Senjata ini bisa digunakan dalam hal apapun, mulai dari konten hingga strategi promosi yang memang sudah terbukti efektif.

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 mungkin akan kesusahan sendiri untuk mencapai angka fantastis dari bagian pertamanya. Tetapi, penonton masih berbondong-bondong pergi ke Bioskop untuk mencari tahu kelanjutan cerita bagian pertama. Terpotongnya informasi dari bagian pertamanya ini mungkin akan membagi dua tipe penonton, yang penasaran dengan kelanjutannya atau malah merasa dicurangi karena tanggung jawab Anggy Umbara sebagai sutradara tak ditepati kepada penontonnya. 


Bagi yang penasaran, tentu akan berharap bahwa performa dari Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 akan memiliki performa yang lebih baik. Ekspektasi seperti ini tentu akan muncul karena Jangkrik Boss bagian pertama hanya memberikan sebuah pengantar ceritanya saja. Sehingga, sisa plot dengan berbagai konfliknya tentu akan berada di bagian keduanya. Memang benar, apabila di bagian kedua ada banyak sekali konflik yang menjalankan filmnya sepanjang 98 menit. Tetapi, tak bisa dipuaskan secara keseluruhan filmnya sendiri.

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 ini memang tak bisa dikategorikan buruk. Ada beberapa hal di dalam film Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 yang sangat perlu untuk diapresiasi. Tak hanya sekedar membangkitkan semangat nostalgia dari Warkop DKI saja, tetapi juga khasanah perfilman Indonesia. Tetapi, ada beberapa kelemahan yang membuat penontonnya juga akan ikut kelelahan untuk mengikuti tiap menit filmnya. 


Melanjutkan dari Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 di mana Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Wibowo) yang sudah pergi ke malaysia untuk menemukan harta karun. Di tengah perjalanannya, tasnya tertukar dengan milik seorang wanita bernama Nadia (Fazura). Dia adalah seorang ilmuwan di sebuah Universitas di Malaysia. Dono, Kasino, dan Indro berusaha pun meminta bantuan kepada Nadia untuk membaca peta harta karun tersebut.

Ditemukanlah bahwa peta harta karun tersebut berada di sebuah pulau tersembunyi di Malaysia. Berangkatlah Dono, Kasino, dan Indro dengan teman-temannya ke pulau tersebut untuk menemukan harta karun tersebut agar bisa menebus denda yang harus mereka bayar karena ulah mereka. Ketika sampai di sana, banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang menghantui mereka. Hingga mereka menemukan sebuah kebenaran dengan harta karun tersebut. 


Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 berisikan banyak sekali letupan yang berusaha keras agar membuat penontonnya tertawa. Sehingga, sepanjang 98 menit durasinya penonton dihajar terus dengan berbagai setup comedy yang memiliki niatan menghibur penontonnya. Sayangnya, segala letupan bangunan komedi yang berusaha untuk dibuat oleh Anggy Umbara memang tak sepenuhnya tepat sasaran. Ada komedi yang dapat diterima, tetapi juga tak sedikit komedi yang malah tak tersampaikan dengan baik.

Begitu tumpang tindih set upkomedi yang disampaikan dengan menggebu-gebu oleh Anggy Umbara ini tak lain hanyalah untuk menggenapkan jumlah durasi sehingga menjadi satu film yang utuh. Inilah penyakit dari sebuah film yang dipaksa menjadi dua bagian yang berbeda. Dengan konflik yang harusnya berada di satu film saja, semuanya malah terkesan dipanjang-panjangkan. Beberapa adegan pun bisa dihilangkan demi penceritaan yang lebih efektif.

Tetapi, hal itu adalah keputusan dari sang sutradara sendiri dalam memilih. Di luar bagaimana presentasi film yang terbelah menjadi dua film yang tak efektif, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 memiliki poin yang perlu diapresiasi. Film arahan Anggy Umbara ini tak sekedar memberikan sebuah euforia atas ketiga komedian legendaris, tetapi juga kepada ranah perfilman Indonesia di era sebelumnya. Hal ini mungkin akan jarang ditemui di dalam film-film Indonesia lainnya. 


Menggunakan konflik dalam filmnya sebagai sebuah napak tilas ini menjadi sebuah cara yang menarik. Kapan lagi kita bisa melakukan perjalanan dari zaman ke zaman tentang film Indonesia dengan kemasan yang menyenangkan. Memberikan tribut kepada perfilman Indonesia pun bisa dilakukan dengan begitu festive dan tak melulu serius. Mengingatkan atau mungkin memperkenalkan kepada semua generasi era film-film Rhoma Irama atau bahkan Suzanna.

Dengan adanya sebuah perayaan tentang perfilman Indonesia, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 setidaknya memiliki nilai yang masih bisa diangkat. Selebihnya, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2 seharusnya akan jauh lebih efektif apabila dirangkum menjadi satu film utuh tanpa dibagi menjadi dua bagian. Meski memiliki maksud untuk memberikan efek nostalgia, seharusnya efek tersebut akan bisa berdampak lebih masif lagi apabila tak menuruti ego dalam memenuhi kuantitas terlebih dalam jumlah penonton.

Senin, 03 Oktober 2016

WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS PART 1 (2016) REVIEW : Semangat Nostalgia Atas Nama Komersialisasi


Siapa yang tak kenal dengan trio komedian Dono, Kasino, dan Indro? Nama mereka menjadi salah satu sosok legendaris yang dikagumi oleh banyak orang yang pernah mengikuti zaman kejayaan mereka. Mereka menyebut diri mereka �Warkop DKI� yang sudah memiliki banyak sekali film-film dan serial televisi. Dono dan Kasino yang telah wafat, membuat grup komedian ini sudah absen selama beberapa tahun. Beberapa pihak ingin sekali �menghidupkan kembali� sebuah ikon komedi legendaris di Indonesia ini.
 
Maka, Falcon Pictures yang sudah sering bekerjasama dengan Indro Warkop akhirnya melahirkan kembali trio komedian ini dengan sosok baru. Bersama dengan Anggy Umbara, Falcon Pictures berinisiatif untuk membuat Warkop DKI Reborn yang tetap mengangkat nama Dono, Kasino, dan Indro tetapi dengan wajah yang berbeda. Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro dipercaya untuk melakonkan sosok legendaris ini ke dalam sebuah film berjudul Jangkrik Boss yang dibagi menjadi dua bagian.

Jelas, proyek ini mendapatkan sorotan yang sangat besar dari calon penonton karena rasa penasaran mereka terhadap kapabilitas ketiga aktornya. Word of Mouth dari film ini pun semakin besar dan mendapatkan antusiasme yang cukup tinggi. Bagusnya, Ketiga aktor tersebut, secara performa, sangat berhasil menangkap semangat dari Warkop DKI lama. Hanya saja, problematika muncul dari bagaimana Anggy Umbara mengarahkan filmnya dan naskah dengan treatment komersialisasi.


30 menit awal terlihat benar bagaimana tingkah laku Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, dan Vino G. Bastian yang berusaha keras meyakinkan penonton bahwa mereka sangat kompeten untuk melahirkan kembali komedian legendaris tersebut. Muncul banyak sekali sketsa-sketsa komedi yang menggambarkan dan memiliki semangat Warkop DKI kala itu. Komedi-komedi slapstick yang dikemas ulang dengan isu-isu masa kini sehingga penonton akan terasa sedikit relevan.

Sehingga ketika sketsa-sketsa penuh tribute itu berhenti dan kewajiban Anggy Umbara untuk memberikan jalan cerita dari Jangkrik Boss Part 1 ini malah menjadi sebuah perjalanan tensi yang menurun. Plot cerita di dalam Jangkrik Boss Part 1 menjadi sebuah problematika utama yang seharusnya perlu ditinjau ulang agar Warkop DKI Reborn tetap menjaga excitement yang sudah terlanjur muncul di awal film. Sehingga, penonton mungkin akan merasa kecewa dengan perjalanan cerita yang belum tuntas tersebut.


Tingkah laku Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) sebagai CHIPS yang seharusnya membantu menertibkan keadaan ternyata malah membuat banyak sekali kekacauan. Sehingga, mereka perlu untuk membereskan banyak sekali hal yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka pun diberi hukuman untuk membayar denda sebanyak  8 Milyar. Atas ulahnya tersebut mereka mencari cara agar mendapatkan uang itu.

Mulai dari meminjam uang dari saudara Dono hingga menjual barang-barang yang dimilikinya. Hingga suatu ketika, mereka menemukan sebuah peta harta karun dari kantong milik seseorang yang tergeletak di tengah jalan. Akhirnya, Dono, Kasino, dan Indro berusaha untuk menemukan harta karun tersebut yang ternyata membawa mereka ke negeri Jiran, Malaysia. Tetapi, ketika sampai, Peta tersebut terbawa oleh seorang wanita berbaju merah yang memiliki tas yang sama dengan mereka. 


Di sinilah problematika dari Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1. Keseluruhan film mungkin sudah dirangkum ke dalam sebuah sinopsis pendek di atas. Bagian kedua film Jangkrik Boss nanti, mungkin Anggy Umbara akan lebih berusaha untuk menyampaikan ceritanya. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa sejak kapan film-film Warkop DKI mementingkan plot di dalamnya, tetapi yang perlu ditekankan di sini  adalah bagaimana Anggy Umbara memberhentikan ceritanya yang baru jalan 30 menit.

Di dalam Jangkrik Boss Part 1, Anggy Umbara lebih memaksa penonton untuk menerima nostalgia akan segala bentuk sketsa komedi milik Warkop DKI lama di beberapa adegan awal. Segala sketsa komedi itu dengan sukses menyampaikan segala keinginan Anggy Umbara untuk menyelesaikan misi tersebut. Tetapi, keambisiusan dalam menyelesaikan misi itu ternyata berlangsung terlalu lama sehingga berdampak dalam bagaimana Anggy Umbara menyampaikan pesan lain dalam sebuah plot.

Plot dalam cerita menjadi bias di antara sketsa-sketsa komedi yang berada di dalam filmnya. Sudah ada i'tikad baik dari Anggy Umbara yang berusaha untuk memberikan briefing tentang konflik dalam Jangkrik Boss Part 1. Terdistraksi dalam menjalankan plot utama dikarenakan oleh subplot yang bertebaran mungkin akan wajar, tetapi Anggy Umbara terlalu lama bercengkrama dengan segala gangguan tersebut. Sehingga, Jangkrik Boss Part 1 tak menjalankan pion ceritanya secara utuh sehingga itu menjadi poin yang harus diperbaiki lagi.


Perjalanan dan pengenalan kembali karakter Dono, Kasino, dan Indro di dalam Jangkrik Boss Part 1 sudah terasa cukup. Butuhnya keefektifan dari Sutradara film inlah poin yang perlu diperhatikan, yang mana seharusnya sudah dapat diprediksikan sebelumnya tanpa memotong plot cerita --yang bahkan terasa kasar.  Jangkrik Boss Part 1 terasa sibuk menumpulkan pemikiran penontonnya dengan berbagai terpaan sketsa komedi di dalamnya sehingga membentuk sebuah realita baru yang melupakan hak penonton dalam mendapatkan sebuah pesan yang utuh.

Plot cerita yang belum tuntas bila diiringi dengan problematika penuh kompleksitas dalam penuturannya mungkin masih mendapat kewajaran dari penonton. Tetapi, plot dalam Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini pun tak memiliki kompleksitas yang rumit dan membaginya menjadi dua bagian akan menimbulkan respon setelah menonton yang membuat penontonnya berkubu. Ada yang menantikan film selanjutnya, atau mungkin jera untuk mengikuti film-film selanjutnya.

Atas nama komersialisasi, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss membagi diri menjadi dua bagian dengan jumlah penonton yang sudah mencapai 6 juta. Tetapi, sekali lagi, penonton pun perlu mendapatkan sebuah pesan yang utuh dalam sebuah film. Kontinuitas yang dibangun oleh sutradara atau pun rumah produksi dalam komersialisasi sebuah produk mereka mungkin sudah tak bisa dihindari lagi. Hanya saja, perlu treatment bagaimana mereka mengemas sebuah kontinuitas produk mereka tanpa melupakan hak penontonnya untuk mendapatkan sebuah pesan yang utuh. 


Maka dari itu, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini memiliki banyak sekali potensi untuk menjadi sebuah sajian universal  penonton Indonesia. Pun, aktor-aktornya berhasil mengembalikan semangat-semangat Warkop DKI lama sehingga akan menimbulkan efek nostalgia. Tetapi, bagaimana Anggy Umbara lupa melaksanakan kewajibannya untuk menyampaikan sebuah pesan atau cerita secara utuh ini perlu diperhatikan lagi. Membagi Jangkrik Boss ke dalam sebuah dua bagian mungkin tak salah atas nama komersialisasi, tetapi tambahkan saja beberapa poin yang pada akhirnya dapat membuat penonton mengerti bahwa memang Jangkrik Boss ini memiliki urgensi menggunakan template ini.

Selasa, 26 Juli 2016

SABTU BERSAMA BAPAK (2016) REVIEW : Problematika Sebuah film Adaptasi


Sabtu Bersama Bapak adalah sebuah novel fiksi yang ditulis oleh Adhitya Mulya. Bukunya telah sukses menjadi bacaan favorit dan terjual di mana-mana. Lantas, tak salah pula jika pada akhirnya rumah produksi dan sutradara tertarik untuk mejadikannya sebuah film berdurasi panjang yang tayang di layar perak. Sutradara yang tertarik untuk mengangkat buku ini menjadi sebuah film adalah Monty Tiwa yang sudah terbiasa terjun dengan tema-tema keluarga seperti ini.

Sehingga, Monty Tiwa sudah sangat dipercaya untuk mengadaptasi buku yang telah menjadi fenomena pembaca domestik. Di bawah naungannya, proyek ini pun mendapatkan jajaran aktor aktris yang sudah tak diragukan. Memasang nama-nama seperti Deva Mahenra, Acha Septriasa, Arifin Putra, Abimana Aryasatya, pun dipermanis dengan wajah baru seperti Sheila Dara. Dan juga, turut hadir aktris kawakan seperti Ira Wibowo yang menambah kepercayaan penonton dengan hasil akhirnya.


Dan sekali lagi, perlu diperhatikan adalah ketika sebuah buku dan film adalah sebuah medium penyampaian pesan yang jauh berbeda. Ketika berbicara soal dua medium ini, penonton seakan tak mau tahu. Sabtu Bersama Bapak mungkin mengalami perubahan secara struktur cerita dari buku ke dalam film. Namanya juga film ini adalah sebuah adaptasi, bukan duplikasi. Sehingga, adanya perbedaan yang terjadi di dalam buku dan film adalah sesuatu yang lumrah. Karena sebuah film memiliki yang namanya durasi yang mana perlu diperhatikan agar penyampaiannya pun efektif.

Banyak sekali respon yang mengatakan bahwa Sabtu Bersama Bapak tak bisa menyenangkan pembacanya ketika menjadi sebuah film utuh. Ada yang merasa bahwa, Sabtu Bersama Bapak tak bisa memiliki koneksi dari karakter kepada penontonnya. Maka, yang perlu diperhatikan adalah ketika sebuah film muncul dari adaptasi sebuah novel, jelas karakter yang ada di dalamnya mungkin mendapatkan ruang gerak yang begitu sempit. Hal itu dikorbankan, karena penonton awam akan peduli dengan jalan cerita yang telah tuntas. Tetapi, hal itu tidak masalah jika cerita tersebut dapat berjalan dengan lancar bahkan berkoneksi dengan penontonnya. 


Sabtu Bersama Bapak memang hadir dengan memberikan sebuah terapi kejut akan konfliknya yang belum apa-apa sudah memiliki problematika. Mengisahkan bagaimana sang Bapak (Abimana Aryasatya) yang sudah tak memiliki umur yang panjang lantaran terkena kanker. Sang Bapak pun berinisiatif untuk memberikan petuah-petuah kepada anak-anaknya, Cakra dan Satya,  lewat sebuah rekaman yang akan diputar oleh Ibu Itje (Ira Wibowo). Rekaman tersebut akan diputar setiap sabtu pagi sepulang sekolah.

Setelah beberapa puluh tahun kemudian, Cakra (Deva Mahenra) dan Satya (Arifin Putra) menemukan problematika hidupnya masing-masing. Satya yang sudah beristri dengan Rissa (Acha Septriasa) memiliki problematika rumah tangga yang selalu ada. Berbeda dengan Cakra, yang ternyata memiliki masalah dalam mencari pasangan hidup. Dengan problematika yang berbeda, tetapi mereka tetap menggunakan petuah dari sang Bapak yang mereka saksikan lewat rekaman sebagai prinsip hidup mereka.

Bukan berarti dengan memberikan konflik yang seketika sudah beruntun itu, penonton tak mendapatkan intimasi di dalam filmnya. Hanya saja, intimasi di setiap film mungkin akan berbeda. Di Sabtu Bersama Bapak, karakternya yang sangat banyak mungkin akan terbatas dengan adanya durasi yang perlu diperhatikan. Intimasi yang ditawarkan Monty Tiwa di dalam Sabtu Bersama Bapak adalah intimasi cerita yang mungkin lebih menawarkan tentang keberadaan suatu keluarga.


Meski akan terasa, sekuens setiap karakter memiliki cara yang berbeda untuk memberikan sebuah suasana di dalam cerita. Hal tersebut juga disesuaikan dengan bagaimana sifat atau watak setiap karakternya. Seharusnya, Sabtu Bersama Bapak menjadi sebuah paket komplit sebuah film yang memiliki segala jenis pendekatan genre. Kita bisa dibuat tertawa, serius, dan merasakan sebuah melankoli atas kehidupan yang terjadi di setiap karakter. Tetapi, beberapa bagian teknis di dalam film ini mungkin perlu diperhatikan.

Hingga muncul sebuah persepsi bahwa film Sabtu Bersama Bapak ini digarap dengan terburu-buru. Sehingga, hal-hal teknis tak terlalu diindahkan, padahal itu pun bisa menjadi kekuatan atas uniknya pendekatan di dalam film Sabtu Bersama Bapak yang beragam. Editing warna di dalam film ini pun terlalu kuning, mungkin untuk membangun suasana yang hangat dan ternyata berujung berlebihan. Sehingga, warna film pun terkesan pecah-pecah. Pun, penonton terasa terganggu dengan editing lens flare buatan yang diselipkan terlalu banyak. 

Penonton pun merasakan sebuah distraksi dari segi teknis, bukan dalam bagaimana Monty Tiwa mengenalkan karakter-karakternya. Karena, selama plot cerita dapat membuat penonton ingin mengetahui apa yang akan terjadi, hal tersebut masih dikatakan berhasil. Sabtu Bersama Bapak beruntungnya masih memiliki semangat itu. Meskipun, distraksi skala besar muncul dari segi teknis ketika penonton berusaha untuk berkoneksi dengan emosi cerita di dalam filmnya.


Kredit terbesar di dalam film ini adalah pengarahan permainan karakter yang diperankan oleh Acha Septriasa dan Deva Mahenra. Acha Septriasa berhasil menjadi karakter pendukung yang memberikan kontrol terhadap lawan mainnya, sehingga jalinan emosi di dalam film ini tak terkesan berlebihan. Begitu pun dengan Deva Mahenra yang sedang berusaha keras untuk bermain dengan pas. Dan karakter Cakra dibawakan dengan menarik oleh Deva Mahenra.

Sehingga, jadilah Sabtu Bersama Bapak yang mungkin berusaha untuk memberikan pendekatan di setiap konflik ceritanya. Tetapi, perlu digarisbawahi adalah ketika film ini adalah sebuah adaptasi sehingga mungkin pengembangan karakternya memiliki keterbatasan karena durasi. Hanya saja, sebuah distraksi datang dari segi teknis yang mengurangi konsentrasi penontonnya. Tata editing film Sabtu Bersama Bapak memberikan sesuatu yang berlebihan. Pun, dengan tata gambar yang tak memberikan sesuatu yang mewah dengan setting yang berbeda. Sehingga, Sabtu Bersama Bapak yang seharusnya menjadi sebuah sajian paket komplit dalam genre-nya, pun terasa kurang spesial.
 

Rabu, 13 Januari 2016

NEGERI VAN ORANJE (2015) REVIEW : Kisah Kasih Di Negeri Orang


Dengan setting luar negeri, biasanya para rumah produksi menyatakan eksklusifitas akan film yang digarapnya. Alih-alih mereka menggunakan konten dalam filmnya sebagai kekuatan, terlalu banyak rumah produksi yang hanya modal setting luar negeri pun mereka menjadikannya sebagai kekuatan utama dari sebuah film. Bahkan tiga film yang rilis pada Desember 2015 lalu, mereka menggunakan setting luar negeri sebagai kekuatan penjualan dari filmnya.
 
Salah satunya adalah Negeri Van Oranje, film garapan Endri Pelita yang diangkat dari novel best seller. Film yang dibuat oleh rumah produksi Falcon Pictures ini memiliki banyak sekali poin utama yang dijadikan sokongan promosi. Drama persahabatan, panorama indah kota Belanda, dan juga poin novel best seller. Pun, Negeri Van Oranje ditaburi para jajaran aktor aktris kelas A dengan paras tampan dan cantik yang juga memiliki massa di setiap namanya.

Dengan banyaknya taburan poin-poin yang bisa menjual film Negeri Van Oranje adalah sebuah tugas bagi Endri Pelita untuk mengemas film arahannya. Dan beruntung, Endri Pelita bermain aman ketika mengarahkan Negeri Van Oranje. Film ini masih memberikan esensi cantik dan manis akan sebuah kisah cinta dan persahabatan di negeri orang. Meskipun sumber permasalahan Negeri Van Oranje sering timbul dan tenggelam secara emosi dan terkadang mereka mencari cara untuk mencari masalah itu. 


Daus (Ge Pamungkas), Wicak (Abimana Aryasatya), Banjar (Arifin Putra), dan Geri (Chicco Jerikho), empat sahabat yang tak sengaja bertemu satu sama lain di sebuah stasiun kereta. Mereka kedinginan dan saling bercengkrama hingga akhirnya seorang wanita berparas cantik bernama Lintang (Tatjana Saphira) lewat di hadapan mereka. Hanya dari satu kejadian itu, mereka menjadi satu sahabat yang sangat akrab.

Tetapi, keempat pria yang ada di sekitar Lintang berusaha keras untuk saling memperebutkan hati Lintang. Mereka mencoba berbagai cara agar bisa menjadi lelaki pendamping Lintang. Hingga akhirnya, Lintang tahu dirinya dijadikan sebagai rebutan di saat Lintang sudah merasa nyaman bersahabat dengan mereka. Dan ketika pada saat itu, Lintang menikah dengan salah satu sahabatnya yang ternyata mampu menjawab pertanyaan hati Lintang. 


Dengan premis kisah persahabatan dan cinta, entah kenapa ini bisa menjadi poin menarik bagi calon penonton. Teringat dengan film arahan Rizal Mantovani, 5 Cm yang juga bisa menebus angka 2 juta penonton. Pun film itu memiliki poin-poin yang sama dengan Negeri Van Oranje, hanya saja bukan keindahan negeri orang yang menjadi kekuatan, tapi panorama indah alam negeri sendiri. Dan Negeri Van Oranje punya potensi yang bisa diharapkan sama dengan 5 Cm yang mendatangkan banyak penontonnya.

Negeri Van Oranje memiliki presentasi yang jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan 5 Cm. Presentasi manis dari Negeri Van Oranje muncul dari penulisan naskah adaptasi dari bukunya. Pun, dikemas dengan presentasi cerita yang menarik sehingga penonton tergugah untuk mengikuti isi cerita Negeri Van Oranje. Pintarnya adalah penggunaan alur mundur untuk menceritakan isi Negeri Van Oranje dan memberikan satu kalimat penting di awal cerita sehingga penonton ingin tahu jawaban dari kalimat yang diutarakan di awal filmnya.

Titien Wattimena selaku penulis naskah bertutur dengan lembut di sepanjang film. Menyelipkan kalimat-kalimat manis yang tak murahan yang membuat Negeri Van Oranje terlihat kuat. Hanya saja, ada satu poin yang terlewat dalam Negeri Van Oranje. Drama persahabatan yang menjadi poin utama di dalam filmnya malah membuat distraksi di antara poin kisah lainnya. Persahabatan keempat karakter di dalamnya masih terasa artifisial. 


Pertemuan mereka pun terkesan dibuat sebagai formalitas penuturan cerita bagaimana mereka bisa bertemu. Tetapi, mengapa mereka memiliki alasan agar terus menjalin hubungan sebagai sahabat tak bisa terasa nyata hadir dan dirasakan oleh penonton. Pun, hubungan keempat pria di dalamnya hanya sekedar rival untuk membangun relasi lebih dengan Lintang. Dan ini terlihat kontradiktif sebagai alasan mereka untuk bersahabat satu sama lain.

Jajaran aktor dan aktrisnya pun terlihat belum memiliki relasi yang kuat. Ikatan emosi kelima pemain utamanya sebenarnya sudah ada, hanya saja masih terlihat mentah. Hal itu juga yang memperlemah drama persahabatan yang menjadi sub plot utama dari film ini. Tetapi beruntung, Negeri Van Oranje tak terlalu menonjolkan poin itu karena mungkin sudah tahu hal itu akan menjadi kekurangan dan seharusnya ditutupi oleh sang sutradara. 


Bagusnya, Endri Pelita berusaha keras menutupi kekurangan yang dimiliki oleh filmnya. Untuk menumpulkan sensitivitas penonton akan kekurangan dari film ini, Endri Pelita menawarkan panorama-panorama indah di setiap sudut kota di negara belanda. Meskipun penggunaan fake lens flare itu terkesan berlebihan, tetapi tata kamera yang diarahkan berhasil membuat mata penonton dimanjakan oleh pemandangan-pemandangan indah itu. Negeri Van Oranje pun bisa digunakan sebagai medium perjalanan kecil melihat keindahan sudut-sudut kota di negeri Belanda.

Negeri Van Oranje bukanlah sebuah presentasi sempurna dari Endri Pelita dalam menuturkan sebuah kisah cinta dan sahabat. Ada kekurangan dalam pengembangan konflik persahabatan yang membuatnya kurang tampil percaya diri.  Tetapi, Endri Pelita berusaha keras agar mengemas Negeri Van Oranje bisa tampil dengan segar dan hangat. Dan hal itu dibantu dengan sokongan naskah adaptasi yang ditulis oleh Titien Wattimena. Juga, kepingan panorama indah sudut kota negeri belanda yang menjadikan Negeri Van Oranje sebuah perjalanan kecil menyusuri kota. 

Sabtu, 09 Januari 2016

BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA (2015) REVIEW : Cerita Terorisme Islam yang Diteroriskan


Kesuksesan dalam menggaet penonton mungkin menjadi salah satu poin penting bagi perfilman Indonesia. Entah, dengan menggaet jutaan penonton, hal tersebut bisa menebus modal yang sudah dikeluarkan oleh film tersebut atau tidak. Mungkin ini juga yang menjadi alasan mengapa novel-novel terbaru milik Hanum Salsabila Rais diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Apalagi setelah 99 Cahaya Di Langit Eropa sukses menggaet total 1,5 juta penonton di dalam dua filmnya. 

Bulan Terbelah di Langit Amerikajelas diharapkan oleh Maxima Pictures menjadi sebuah Box Office Hit yang bisa mengekor kesuksesan film sebelumnya. Meskipun, proyek ini berada di tangan sutradara yang berbeda. Rizal Mantovani menggantikan Guntur Soeharjanto sebagai komandan tertinggi untuk mengarahkan perjalanan selanjutnya dari Hanum dan suaminya di negara Amerika. Bulan Terbelah di Langit Amerika tetap didukung dengan aktor aktris ternama Indonesia.

Sama seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Bulan Terbelah di Langit Amerika ini masih menjual eksistensi agama Islam di negara selain Indonesia. Tak seperti Guntur Soeharjanto, Rizal Mantovani membuat Bulan Terbelah Di Langit Amerikakehilangan poin utama dari filmnya. Alih-alih membahas terorisme agama yang menyerang agama Islam di negara Amerika, Bulan Terbelah di Langit Amerika malah jatuh menjadi sebuah film drama rumah tangga berbumbu islami. 


Diawali dengan bagaimana Hanum (Acha Septriasa) ditugaskan oleh bosnya untuk mengulik dan menulis artikel dengan judul �Will The World Would Be Better Without Islam?�. Hal ini karena  terunggahnya sebuah video di satu situs video dengan judul �Where�s My Dad?� yang bercerita tentang bagaimana ayahnya yang disangka teroris saat tragedi 9/11. Hanum pergi ke Amerika untuk mewawancarai narasumbernya yaitu Azima (Rianti Cartwright), Ibunda dari anak kecil tersebut.

Tetapi, perjalanan Hanum tak bisa berjalan mulus. Azima menolak dan menyuruh pergi Hanum karena isu yang dibahas sangat sensitif dengan warga Amerika. Hanum pun mulai memutar otak untuk mencari cara agar bisa mendapatkan jawaban dan konten sebagai dasar tulisannya. Hanum tak berangkat sendirian, dia ditemani oleh sang suami, Rangga (Abimana Aryasatya) yang kebetulan juga mempunyai urusan di sana. Perjalanan mereka di negara Amerika tak hanya untu memenuhi tugas satu sama lain, tetapi juga menguji urusan rumah tangga mereka. 

 
Terorisme memang sering sekali disangkutpautkan dengan agama Islam. Sehingga, kejadian apapun yang mengatasnamakan terorisme jelas akan menyerang agama Islam. Hal ini juga muncul ketika kejadian 9/11 terjadi. Salah satu kejadian paling fenomenal di dunia yang juga sekali lagi mengatasnamakan terorisme sebagai tersangka. Hal ini lah yang mendasari poin utama dari Bulan Terbelah di Langit Amerika. Mencoba mengangkat derajat agama Islam yang terlanjur memiliki citra buruk tentang terorisme.

Entah tak tahu seperti apa konten dari sumber aslinya, Bulan Terbelah di Langit Amerikasebenarnya berani menawarkan premis cerita yang seharusnya bisa menjanjikan. Usaha untuk membangkitkan kembali eksistensi yang lebih baik tentang agama Islam yang sudah menjadi kambing hitam tentang terorisme. Nyatanya, Rizal Mantovani tak menangkap secara baik poin utama dari Bulan Terbelah di Langit Amerika yang lebih menjanjikan ini.

Alih-alih membahas lebih dalam tentang minoritas Islam di negeri orang, Rizal Mantovani hanya bermain aman mengulik dapur rumah tangga Hanum dan Rangga dengan nafas islami. Tak lupa penggalan-penggalan kitab suci diselipkan ke beberapa dialog yang mungkin hanya sekedar menjadi sebuah orgasme para pengguna atribut keagamaan yang sama dengan karakter utamanya. Tak menjadi sebuah dialog simbolis yang dihadirkan sebagai sebuah bahan renungan tentang tuhan dan agama. 


Rizal Mantovani membanting setir poin utama dari Bulan Terbelah di Langit Amerika menjadi sebuah film romansa dewasa tentang pernikahan. Dialog-dialog simbolik tentang bulan terbelah memang ada dan menyangkut dua poin penting filmnya yaitu terorisme agama dan romansa pernikahan. Hanya saja Rizal Mantovani tak bisa menggabungkan kedua hal itu dengan irama yang sama. Maka perumpaan simbolik itu terkesan menggelikan dan tak dapat mendapat benang merah dari kedua poinnya.

Tak dapat dipungkiri, para pemain di film ini memiliki ikatan emosional yang sangat baik. Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, dan Hannah Al-Rashid bisa membuat Bulan Terbelah Di Langit Amerika tak jatuh terlalu dalam. Penampilan mereka berhasil membuat Bulan Terbelah di Langit Amerika memiliki poin menarik dalam mengulik romansa dewasa tentang pernikahan. Hanya saja ketika landasan agama yang diselipkan ke dialognya, ada sesuatu yang mengganjal hadir di dalamnya. 


Terasa ada keraguan menyertai mereka yang sedang tak tahu maksud secara lebih dalam tentang landasan agama yang mereka lantunkan di dalam dialog mereka. Sehingga, apa yang mereka tampilkan pun terkesan dibuat-buat. Mereka sendiri terlihat tak nyaman dengan atribut-atribut agama yang berusaha mereka kenakan untuk mendalami karakter yang dimainkan. Tetapi, tanpa atribut itu, calon penonton yang sudah mereka targetkan tak akan berbondong-bondong hadir ke bioskop untuk menyaksikan film ini.

Bukan suatu yang salah ketika menyelipkan drama romansa pernikahan ke dalam film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Hanya saja, Rizal Mantovani belum benar mencarikan benang merah yang mampu menggabungkan perumpamaan simbolik tentang bulan terbelah dengan dua poin utamanya. Ikatan emosional para pemainnya dan kualitas akting mereka memang sudah mumpuni. Hanya saja, bagaimana mereka masih merasa canggung dengan atribut agama yang mereka kenakan di dalam karakternya yang membuat Bulan Terbelah di Langit Amerikaterkesan tak nyata. 

Kamis, 15 Oktober 2015

3 : ALIF LAM MIM (2015) REVIEW : Tatkala Problematika Sosial Berdampak Pada Kehancuran


Menjadi salah satu sutradara yang layak diperhitungkan di kancah perfillman Indonesia, Anggy Umbara tak pernah absen untuk menghasilkan karya di setiap tahunnya. Dengan kesuksesan luar biasa dari Comic 8, semakin menegaskan lagi bahwa Anggy Umbara adalah rival bagi para sineas lain yang ingin bersaing. Memiliki proyek franchise besar yaitu Comic 8, Anggy Umbara kembali menyusun setup baru untuk dikembangkan agar menjadi franchisebesar lainnya.
 
Menawarkan sesuatu yang berbeda, 3 : Alif Lam Mim, judul karya terbaru dari Anggy Umbara ini berpotensi untuk menarik minat penonton yang sudah terlanjur skeptis dengan genre film Indonesia yang monoton. Premis yang diusung oleh 3 : Alif Lam Mim ini memiliki isu yang sangat sensitif dan tidak dapat dipungkiri akan menimbulkan kontroversi. Tetapi, film ini juga bisa menjadi salah satu media untuk membuat surat terbuka terhadap isu yang selalu ada di negara yang selalu tanpa sengaja mematok kebenaran yang sudah pasti. 

Anggy Umbara berani mempertanyakan satu poin penting di dalam filmnya. Bagaimana jika apa yang selalu mereka percaya dan mereka anggap benar adalah ujian terbesar dan rintangan bagi segala manusia untuk bisa saling berbuat baik terhadap sesama? Bagaimana jika rasa kepemilikan terhadap apa yang mereka anggap benar yang terlalu signifikan malah membuat seseorang takabur dan melupakan toleransi yang seharusnya diajarkan dan menjadi dasar kita membangun relasi dengan sesama?  


Hal tersebut tergambar lewat cerita di dalam 3 : Alif Lam Mim, menceritakan tentang keadaan negara Indonesia paska kehancuran. Di tahun 2036, Indonesia masa depan adalah sebuah negara dengan pemahaman liberal dan menganggap bahwa memihak di satu agama adalah masalah utamanya. Plot cerita dijalankan lewat tiga karakter berbeda dengan latar belakang pembangun karakter yang sama. Alif (Cornelius Sunny), Lam (Abimana Aryasatya), dan Mim (Agus Kuncoro)

Mereka menjadi sosok individu yang berbeda untuk menjalani hidup mereka. Alif, menjadi seorang polisi dengan paham liberal sesuai dengan negara Indonesia saat itu. Lam, seorang jurnalistik yang harus berperang dengan pekerjaannya sendiri untuk tetap bisa hidup beriringan dengan kepercayaan yang dipegangnya. Dan Mim, memutuskan untuk tetap membela kepercayaan yang mereka pegang meski akan terus dianggap ancaman. 


3 : Alif Lam Mim menawarkan premis dan potensi yang menarik dari sekian banyak film-film Indonesia yang ada. Anggy Umbara berusaha untuk mencari celah dan memberikan pandangan selangkah lebih maju untuk mengembangkan perfilman Indonesia yang sudah minim akan terobosan. 3 : Alif Lam Mim berani untuk menggambarkan Indonesia paska kehancuran yang disebabkan oleh problematika sehari-hari negara ini sendiri. Sang sutradara membangun pemahaman baru yang menyangkut pautkan problematika ini ke dalam filmnya.

Arogansi dalam membela apa yang mereka percaya itu benar menjadi problematika yang tak akan pernah tahu jawabannya dan tak akan pernah habis untuk dibahas. Hal tersebut menguap menjadi suatu isu yang sensitif untuk disinggung oleh beberapa pihak. Merasa geregetan dengan isu tersebut, Anggy Umbara memasukkan konten tersebut  ke dalam naskah film terbarunya. Dan ditulis ramai-ramai dengan 2 saudaranya, Fajar dan Bounty Umbara.

Presentasi 3 : Alif Lam Mim memang belum bisa dikatakan sempurna meskipun memiliki konten yang dahsyat. Memasukkan banyak sekali isu sosial yang berusaha untuk disindir sehingga konten-konten itu belum bisa menyatukan kepingan-kepingan cerita yang dibangun. Apalagi, kekhasan pengarahan dari sutradara Comic 8 ini adalah memecah setiap keping cerita karakternya satu persatu. Berusaha menguliti sang karakter agar memiliki pendalaman karakter yang seimbang.


Di luar presentasinya yang belum sempurna, setidaknya Anggy Umbara tahu dan berusaha untuk membuat filmnya menjadi salah satu yang berbeda di lini film Indonesia lainnya. Juga, naskah penuh pertanyaan kontemplatif tentang kehidupan. Dilempar kembali oleh sang sutradara untuk menampar sisi arogansi dan acuh manusia tentang kepercayaan yang mereka pegang ternyata adalah sebuah bumerang bagi kehidupan mereka bersosial.

Meskipun, naskah milik Umbara bersaudara ini masih terkesan pretensius dan salah kaprah untuk membangun idealisme baru bagi filmnya. Berusaha untuk tidak terkesan stereotip memberikan pandangan terhadap suatu kepercayaan, malah film 3 : Alif Lam Mim tetap menegaskan bahwa satu kepercayaan tersebut adalah suatu kebenaran yang absolut. Tanpa sengaja, mereka menempel atribut dari diri pembuatnya ke dalam naskah yang mereka tulis. Sehingga, bisa jadi film ini tak bisa menjadi sajian yang universal dan mengusik keberadaan instansi dan orang-orang terkait lainnya yang juga diakui.

Tetap, 3 : Alif Lam Mim memberikan i�tikad baik setidaknya untuk menjadi sesuatu yang berbeda dari konten dan presentasi. Dengan konten yang berat, Anggy Umbara tetap mengemas filmnya menjadi sesuatu yang megah dan mahal. Semua konten cerita yang berat itu ditampilkan secara eksplisit dan tak perlu basa-basi sehingga penonton bisa menyerap apa yang coba disampaikan oleh Anggy Umbara. Tanpa melupakan bahwa film ini juga bisa menjadi media refleksi penonton tentang kebenaran kepercayaan mereka. Sudah benarkah cara mereka untuk membela apa yang mereka anggap benar? 


Maka di luar presentasinya yang belum dalam taraf sempurna, 3 : Alif Lam Mim berusaha untuk tampil berbeda dan memberikan sumbangsih besar di deretan film Indonesia lainnya. Anggy Umbara berani untuk mengangkat isu sensitif tentang suatu kepercayaan di dalam film terbarunya. Meskipun, ada satu poin yang terlewat ketika tanpa sengaja menempelkan atribut dirinya ke dalam naskah filmnya. Setidaknya, 3 : Alif Lam Mim bisa dijadikan sebuah pencerminan dan kontemplasi akan kehidupan sosietas negara yang terbelah dalam beberapa kubu yang merasa paling benar.
2014 © Movieism
RealMag theme by Templateism - Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger