Advertisement

Tampilkan postingan dengan label Titi Kamal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Titi Kamal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2017

HANGOUT (2016) REVIEW : Zona Baru Raditya Dika dengan Cara Lama


Nama Raditya Dika yang sudah menjadi sebuah brand tersendiri di Indonesia, lantas membuat para rumah produksi sudah mulai percaya dengan kinerjanya. Setelah proyek Koala Kumal bersama Starvision Plus, di tahun ini pula Raditya Dika bekerja sama dengan Rapi Films untuk merilis sebuah karya baru yang ditulis dan juga diarahkan oleh dirinya sendiri. Proyeknya kali ini berusaha berbeda dengan apa yang sudah dikerjakan sebelumnya.

Raditya Dika berusaha keluar dari zona nyamannya yang sudah terbiasa mengarahkan sebuah drama komedi cinta patah hati di setiap filmnya. Raditya Dika tetap bermain di wilayah komedi yang sudah menjadi kebiasannya tetapi digabungkan dengan genre thrilleratau mungkin lebih kepada misteri. Rapi Films menaungi film eksperimen Raditya Dika ini dengan judul Hangout. Di sinilah sebenarnya Raditya Dika berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya bisa diperhitungkan untuk menjadi sutradara yang lebih berbeda.

Setelah kematangan Raditya Dika lewat �Single� ataupun �Koala Kumal�, tentu membuat adanya kepercayaan tersendiri lewat film Hangout. Meskipun, ada pula rasa khawatir yang tetap hadir karena apa yang dikerjakan ini masih baru di tangan Raditya Dika. Yang terjadi, sebenarnya �Hangout� masih memiliki kematangan bertutur milik Raditya Dika. Hanya saja, beberapa poin di dalam film �Hangout� ini membuat intensitas filmnya menurun dan masih terasa terburu-buru dalam pembuatannya. 


Kali ini, cerita dari Raditya Dika di dalam film Hangout mengisahkan tentang 9 artis yang memerankan dirinya sendiri. Mereka adalah Raditya Dika, Surya Saputra, Prilly Latuconsia, Mathias Muchus, Dinda Kanya Dewi, Bayu Skak, Gading Marten, Soleh Solihun, dan Titi Kamal. Mereka adalah artis-artis dengan sifat-sifatnya yang berbeda dan sedang diundang oleh Tonni P. Sacalu untuk acara off-air di sebuah pulau terpencil. Mereka mau datang ke acara tersebut karena mereka mendapatkan masing-masing 50 juta sebagai bayaran mereka.

Mereka masih tak tahu acara seperti apa yang akan mereka lakukan di pulau tersebut. Tetapi, hal tragis menimpa mereka ketika mereka tahu mereka sedang dijebak di pulau tersebut. Satu persatu dari mereka dibunuh dan tak tahu pelaku siapa. Mereka berusaha keluar dari pulau tersebut dan mereka menyadari bahwa salah satu dari mereka adalah pembunuhnya. Orang-orang yang tersisa di pulau itu berusaha mencari siapa pembunuhnya. 


Konsep yang dimiliki oleh Raditya Dika di dalam film Hangout ini sangat menarik. Poin pertama yang membuat film Hangout ini menarik adalah ketika 9 karakter ini memerankan diri mereka sendiri. Mengingatkan penontonnya dengan film-film meta seperti This Is The End. Poin kedua adalah bagaimana penonton akhirnya diberikan pilihan dari karya-karya Raditya Dika untuk mencoba hal baru. Di dalam film Hangout ini, Raditya Dika menawarkan unsur misteri yang belum pernah dia gunakan sebelumnya, apalagi ditambahi dengan unsur komedi yang notabene masih baru di perfilman Indonesia.

Bisa dikatakan, misteri-misteri yang berusaha disebarkan kepada penonton di dalam film Hangout ini masih enak untuk diikuti. Raditya Dika berusaha menuturkan setiap kejadian-kejadian di dalam film ini dengan baik. Di durasinya yang mencapai 100 menit, bisa dibilang Raditya Dika masih bertutur dengan tetap menyembunyikan misteri. Cukup mengagetkan pula, dengan jejak rekam Raditya Dika yang belum pernah menangani film seperti ini, film Hangout ini berhasil memiliki momen-momen yang berhasil membuat penontonnya ikut tegang.

Sehingga, ada potensi dari dalam diri Raditya Dika untuk menunjukkan sisi lain di dalam dirinya di karya-karya selanjutnya. Tetapi, film ini pun masih minim akan eksplorasi yang seharusnya bisa memiliki kemasan jauh lebih baik lagi. Bila dibandingkan dengan kematangan yang ada di dalam film-film Raditya Dika sebelumnya, Hangout bisa dibilang penurunan dibandingkan keduanya. Ada rasa sedikit terburu-buru ketika menggarap proyeknya ini. Raditya Dika seperti hanya menawarkan kematangan dalam pemilihan genre, bukan kedewasaan yang berusaha muncul seperti dua film sebelumnya. 


Masih ada rasa ketakutan Raditya Dika yang masih tercermin di dalam film Hangout karena ini adalah sesuatu yang baru darinya. Terlihat bagaimana Raditya Dika masih terlihat bermain aman dalam menjalankan setiap ceritanya. Sehingga di beberapa bagian, Raditya Dika masih juga berkutat dengan hal-hal itu saja. Meski harus diakui, Raditya Dika masih pintar menggunakan referensi-referensi kehidupan bisnis hiburan sebagai set up komedinya. Tetapi, sayangnya hal itu juga minim eksplorasi.

Jadilah bagaimana Hangout penuh akan toilet jokesyang terkadang lebih kepada menganggu daripada menghibur. Guyonannya tak jauh-jauh dari alat vital, toilet, dan organ-organ tubuh lain yang masih terasa menjijikkan untuk diekspos. Dengan kematangan yang sudah ditawarkan lewat Single dan Koala Kumal dari segi referensi komedi, rasanya Hangout adalah titik di mana Raditya Dika ternyata kembali menjadi film komedi yang terasa mentah dan kasar. Meskipun, harus diakui usaha keras Raditya Dika membangun banyak sekali punchlinekomedi di setiap menit agar tetap menjaga intensitas komedinya perlu mendapat apresiasi. 


Bagaimana Raditya Dika terlihat bermain aman terlihat ketika film ini sebagai sebuah misteri, ternyata hanya sekedar sampai menunjukkan bahwa misteri itu perlu dijawab. Tetapi, setelah itu penonton tak diberi berbagai macam alasan yang jauh lebih kuat dari itu untuk lebih yakin tentang motif yang dilakukan karakernya hingga harus melakukan hal seberani itu. Dan alih-alih menjawab, Raditya Dika malah memberikan sebuah nilai moral dari film misterinya dan memberikan turn over character yang juga sangat lemah.

Karena berusaha bermain aman itulah yang membuat daya tarik dan kekuatan dari film Hangout berhasil keluar secara utuh. Hangout akhirnya berakhir seperti itu-itu saja, padahal film ini sudah memiliki banyak sekali pemain-pemain bagus yang dapat mendukung film ini secara keseluruhan. Tetapi, patut diacungi jempol bahwa Dinda Kanya Dewi adalah poin utama yang membantu performa Hangout untuk bisa mendapatkan poin komedinya yang efektif.


Sebagai sebuah film yang berusaha keluar dari zona aman, Hangout sebenarnya masih kurang akan eksplorasi dari Raditya Dika dan malah membuat filmnya masih berada di zona aman miliknya. Tetapi, lewat film inilah terlihat bagaimana Raditya Dika sebenarnya memiliki banyak sekali konsep yang sangat pintar. Memberikan meta film yang berhasil membiaskan sesekali penontonnya bahwa ini adalah film fiksi, bukan realita yang terjadi di kehidupan bisnis hiburan Indonesia. Tetapi, setelah bagaimana kematangan dalam menulis skenario lewat Single dan Koala Kumal, film Hangout jelas terasa memiliki segi kematangan menulis yang menurun. Pemilihan komedi yang lebih kasar ketimbang satir, motif karakter yang lemah, dan penuturannya yang harusnya lebih rapat adalah konsekuensi dari ketidakmatangan itu. Hangout harusnya bisa jauh lebih baik lagi!

Minggu, 15 Mei 2016

ADA APA DENGAN CINTA ? 2 (2016) REVIEW : Kisah Kasih dan Sebuah Representasi


Sebuah legenda tercetak di tahun 2002, tatkala penonton film Indonesia sedang lesu-lesunya. Film arahan Rudi Soedjarwo yang menceritakan kisah cinta fase putih abu-abu ini mencetak 2,5 juta penonton pada kala itu. Peristiwa fenomenal ini menjadikan Ada Apa Dengan Cinta? --yang berkisah seputar cinta sepasang sejoli --ini diagung-agungkan oleh banyak pihak. Tak hanya menjadikannya sebagai sebuah prasasti pencetak sejarah, tetapi juga sebagai pijakan lahirnya budaya pop baru yang memberikan influensi yang besar terhadap kontruksi kisah cinta putih abu-abu kala itu.

Rangga dan Cinta, kisahnya mungkin tak semiris Romeo dan Juliet yang dibangun oleh sastrawan luar negeri. Kisah cinta mereka mungkin biasa, tetapi kemanisannya pun tetap terasa hingga 14 tahun kehadirannya. Para penikmat kisah Cinta dan Rangga menantikan seperti apa kisah mereka ketika mereka harus terpisahkan oleh jarak. Dengan adanya permintaan itu, Miles Films, sang empunya cerita Cinta dan Rangga, berinisiatif untuk menghadirkan lagi kisah yang mereka prakarsai. Dan  kali ini, Riri Riza mempunyai wewenang untuk menulis �puisi cinta� milik Rangga dan Cinta.

Atas nama nostalgia, pada awalnya menjadi satu alasan utama tentang Ada Apa Dengan Cinta? 2. Rasa sinis maupun cemas terolah menjadi satu ketakutan besar akan hasil akhir kisah dua sejoli yang melegenda. Hanya saja, ketakutan besar itu ternyata hilang di saat Ada Apa Dengan Cinta? 2 berhasil memikat emosi jiwa penikmatnya. Ada Apa Dengan Cinta? 2 menjadi sebuah bait-bait puisi paling baru kisah cinta Rangga dan Cinta di tengah budaya-budaya mereka yang ternyata sudah saling berbeda. 


Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) yang terpisah di sebuah bandar udara pada masa putih abu-abu itu menjadi satu memori yang membekas. Hingga 14 tahun berikutnya, semuanya seperti tak ada apa-apa di antara mereka berdua. Cinta bersama sahabatnya, Milly (Sissy Pricillia), Maura (Titi Kamal), dan Karmen (Adinia Wirasti), memutuskan untuk berjalan-jalan ke kota penuh budaya bernama Yogyakarta. Liburan mereka mungkin menjadi sebuah kamuflase dari ego Cinta yang ingin menghadiri pagelaran seni milik seniman favoritnya.

Di tengah-tengah rencana liburan yang dilakukan Cinta dan sahabatnya, ada kedatangan yang tak pernah diduga. Rangga, sang masa lalu Cinta, yang pernah membuatnya porak poranda hadir di tengah-tengah gegap gempita canda dan tawa mereka. Meskipun, kedatangan Rangga tak sekalipun bertujuan untuk menginterupsi itu. Bahkan, kedatangan Rangga tak serta merta bertemu secara langsung dengan Cinta. Tetapi, Sahabatnya berusaha untuk mempertemukan mereka hanya untuk bertukar sapa dan mengikhlaskan sesama. 


Rudi Soedjarwo mungkin tak lagi kembali mencetak histori kisah milik Cinta dan Rangga. Legenda ini bangkit atas dorongan dari Riri Riza yang akan memberikan sentuhan berbeda. Ya, sudah 14 tahun lamanya, Cinta maupun Rangga bukan lagi seorang remaja sekolah menengah atas. Sehingga, diperlukan suatu kedewasaan di dalam kisahnya. Maka, yang dibutuhkan dalam Ada Apa Dengan Cinta? 2 bukan hanya sekedar romansa penuh klise yang terlihat mudah. Dan Riri Riza tahu bagaimana kisah Cinta dan Rangga ini terlihat memiliki kedewasaan itu.

Jika hanya atas nama nostalgia, Ada Apa Dengan Cinta? 2  bermain di atas ekspektasi penontonnya. Landasan cerita dari Ada Apa Dengan Cinta? 2 terlihat hanya sekedar romansa yang mengulik kembali memori Cinta dan Rangga yang terlihat tak bermakna. Tetapi, bukan itu yang diinginkan oleh Riri Riza saat menjalin kisah mereka lagi lewat film arahannya. 14 tahun, rentang yang cukup lama untuk karakter rekaan yang terlihat nyata ini berkembang bersama dengan kejadian yang mengiringi mereka. Sehingga, problematika di dalam karakter Rangga maupun Cinta tak hanya sekedar cinta monyet mereka saja.

Ada komplikasi, penuh pemikiran tentang sebuah penentuan sikap dan pengambilan keputusan yang akan mereka tempuh. Rangga dan Cinta kini tak lagi sama, mereka memiliki kematangan dalam karakter mereka dan itulah poin menarik dari film ini. Riri Riza memberikan sebuah nyawa kepada karakter rekaannya sehingga dapat memiliki relevansi dengan penontonnya. Jangan lagi ragukan kepiawaian para jajaran aktor dan aktrisnya yang sudah memiliki sertifikasi di dalam bidangnya karena hal itu juga yang membuat setiap karakternya terlihat nyata. 


Rangga dan Cinta bukanlah seseorang yang hanya memiliki atraksi dengan budaya-budaya yang ada. Maka, bisa dibilang mereka adalah budaya  yang sedang berusaha beradaptasi satu sama lain. Mereka bisa saja diibaratkan sebagai budaya timur dan budaya barat yang masing-masing memiliki pakemnya sendiri saat mencapai tujuan mereka. Mereka bersua di kota Jogja, di mana kota ini sedang giat melakukan pengembangan budaya yang ada agar tak punah. Hanya saja, Rangga dan Cinta punya interpretasi atas budaya mereka yang terlihat lewat proses interaksi keduanya.

Kehidupan Rangga sebagai seseorang yang tinggal lama di negara liberal, memiliki persepsi berbeda tentang komitmen yang berusaha dijalin keduanya. Komitmen hanya dilihat sebagai hubungan yang linear, antara �anda� dan �saya�, antara �kamu� dan �aku�. Berbeda dengan Cinta yang memiliki kehidupan di negara timur yang sangat menghargai bagaimana latar belakang seseorang, mengulik historis seseorang untuk sekedar berinteraksi apalagi untuk menjalin suatu relasi. Maka dari itu, Rangga dan Cinta digambarkan terlihat canggung pada awalnya saat memulai sebuah percakapan di dalam pertemuan pertama mereka paska 14 tahun mereka tak bercakap. 


Tetapi, Rangga dan Cinta berusaha kembali mengulik referensi dan juga pengalaman mereka sehingga menemukan kembali tanda dan lambang mereka sehingga percakapan mereka pun kembali mengalir. Mungkin sekedar basa-basi masalah kisah pribadi hingga sedikit politik yang menghiasi, tetapi penonton pun ikut tersenyum mengikuti setiap menit basa-basi mereka itu. Mungkin sekedar bersapa dengan sapaan 'aku' dan 'kamu', yang sebenarnya adalah kata baku yang perlu dipelajari ketika mempelajari budaya dalam negeri. Mereka menggunakan bahasa itu untuk menemukan intimasi atas kepingan memori yang tak lagi bersatu. Manis, bahkan kelewat manis di dalam kisah mereka yang mungkin bisa jadi basi karena 14 tahun mereka tak kunjung bertemu.
Riri Riza mungkin terlihat ingin menampilkan sebuah harmoni atas budaya yang terkonvergensi. Rangga dan Cinta adalah alat representasi atas kerangka berpikir Riri Riza untuk menyampaikan aspirasi. Maka, sedikit saja aktif dalam memaknai dan temukan bagaimana Riri Riza juga menampilkan budaya-budaya yang juga terkonvergensi. Lihat saja lantunan lagu bernuansa elektrik bertemu bahasa daerah yang tampil sebagai latar belakang musik film ini. Juga, bagaimana setting kedai kopi di dalam film ini yang menawarkan hasil ibu pertiwi dan dipersuasi dengan tren masa kini. Jelas, Riri Riza berhasil menampilkan bagaimana konvergensi budaya bukanlah ancaman yang perlu diwaspadai.


Sehingga, Ada Apa Dengan Cinta ? 2 bukan hanya menjadi dewasa lewat jalinan kisah kasih Rangga dan Cinta yang menemukan sebuah komplikasi. Tetapi, ada juga kedewasaan dalam menuturkan kisahnya itu lewat medium-medium lain yang ada di dalam filmnya. Riri Riza memunculkan sebuah representasi atas sebuah budaya yang terkonvergensi. Dua ideologi budaya berbeda yang berusaha menemukan harmoni. Entah, hal itu muncul lewat karakter-karakter di dalam film ini atau pun detil-detil kecil yang membutuhkan keaktifan untuk memaknai. Dan hasilnya, Ada Apa Dengan Cinta? 2 menjadi sajian yang sangat manis, membekas di hati, pun penuh representasi akan suatu aspirasi.
2014 © Movieism
RealMag theme by Templateism - Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger